Senin, 02 Juli 2012

Sukses Orangtua Atau Sukses Anak (part 2)

Sukses Orangtua Atau Sukses Anak (part 2)
Agar tak terjebak 
Kehidupan yang penuh persaingan, pandangan yang semakin materialistik, dan tuntutan untuk serba cepat membuat semua orangtua kuatir pada masa depan anak mereka. Hal ini pulalah yang membuat orangtua terjebak pada perilaku ' hyper parenting'. Reni menyebutkan gejala yang muncul pada perilaku 'hyper parenting' umumnya adalah kecemasan yang berlebihan akan prestasi anak. Aplikasinya; memaksa anak mengikuti kursus yang sebenarnya tidak sesuai dengan keinginan anak (belum diperlukan pada saat itu ), menerapkan aturan yang kelewat ketat dalam segala hal, tidak bisa menangkap isyarat yang ditunjukkan anak. Mereka tidak menyadari bahwa anak tertekan. Orangtua juga akan sangat kecewa saat anaknya gagal tapi tidak berusaha membangun semangat anak. Sebaliknya menyalahkan anak atas kegagalan tersebut. 

Tentu, Anda tak ingin terjebak dalam perilaku ' hyper parenting' bukan ? Untuk itu Reni menyarankan agar orangtua peka terhadap isyarat yang ditunjukkan anak. Yaitu minat, keinginan dan pendapat anak. Belajarlah mendengar apa yang diinginkan anak. Jangan menuntut anak untuk mencapai sesuatu yang tidak mungkin dilakukannya. Tapi berikan dukungan pada apa yang ingin dieksplorasi si kecil. Inilah yang dinamakan dengan pengasuhan otoritatif. Yaitu pengasuhan yang tidak memaksa kehendak orangtua , penuh kasih sayang, dan kegembiraan. Alvin Rosenfeld dan Nicole Wise menyarankan agar orangtua terhindar dari perilaku 'hyper parenting ' orangtua harus mengetahui ritme alami anak.Yaitu menyadari bahwa dunia anak berbeda dengan dunia dewasa. Dunia anak adalah bermain. Perlu diingat setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Jadi jangan pernah membandingkannya dengan anak lain! 

Dengan mengikuti ritme alami anak dan peka terhadap isyarat yang diberikan anak, orangtua akan mengetahui mana kegiatan pengayaan yang dibutuhkan anak dan mana yang tidak. Secara singkat Reni memberikan kiat untuk hal ini. Yaitu dengan selalu menanyakan terlebih dahulu apakah anak menyukai suatu kegiatan tertentu atau tidak, perhatikan apakah anak nyaman dengan kegiatannya. Tidak salah jika orangtua berkonsultasi dengan psikolog atau pedagog untuk menanyakan apakah anaknya perlu mengikuti suatu jenis kegiatan atau tidak. Sebaliknya jika sebelumnya orangtua selalu mengkomunikasikannya dengan anak dan melihat ritme alami anak maka upaya yang dilakukan adalah dalam rangka membekali anak. 'Membentuk ' dengan 'membekali' , tentu berbeda. "Membekali berarti memberikan stimulasi sebaik mungkin dan menyerahkan apa yang ingin dicapai anak sesuai dengan harapan dan keinginannya," papar Reni.

Intinya menurut Reni orangtua harus menyadari bahwa tak adil jika memberi anak - anak tuntutan lebih dari yang mereka tanggung. Percayalah, mereka bisa menentukan sendiri apa yang akan mereka lakukan dan bermanfaat di kemudian hari. Tak adil juga rasanya, kita meletakkan masa kanak - kanak kita sebagai sentral dalam pengasuhan. Apalagi kerap membandingkan masa kanak kita dengan masa kanak anak sekarang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar