Sabtu, 21 Juli 2012

Pola Asuh Salah, Anak Frustasi

Pola Asuh Salah, Anak Frustasi
Tak hanya orang dewasa yang mengalami frustasi, anak sejak umur batita ( bawah tiga tahun ) sudah mengalami frustasi. Cara orangtua menanggapi frustasi batita, akan mempengaruhi frustasi anak pada usia berikutnya.Menurut Barbara K. Polland, Ph.D.profesor perkembangan anak dan remaja di California State University di Northridge Amerika Serikat, "mengalami frustasi akan mengajarkan anak batita cara mengatasi rintangan - sebuah keterampilan berharga yang dibutuhkan sepanjang hidupnya." Pola asuh orangtua dalam menyikapi rasa frustasi anak harus bijak. Rasa frustasi muncul akibat keinginan yang tidak terpenuhi. Anak pada usia prasekolah , yaitu umur 3 - 4 tahun, mulai memiliki banyak keinginan. Mereka ingin bisa memakai baju sendiri, punya mainan baru, bisa memakai sepatu sendiri, dll. 

Ada dua faktor utama yang membuat anak mudah frustasi. Pertama anak usia prasekolah masih mengembangkan kemampuan fisiknya, sehingga mereka kadang berharap dan merasa mampu melakukan segalanya.Kedua anak usia prasekolah sudah memiliki banyak keinginan. Lihat ini kepingin, lihat itu kepingin. Tapi pada kenyataannya mereka tidak selalu mendapatkan yang mereka inginkan.

Selain kedua faktor utama di atas, ternyata pola asuh orangtua turut mempengaruhi rasa frustasi anak. Pola asuh yang salah membuat anak menjadi frustasi. Rasa frustasi yang berlebihan akan membuat perkembangan mental anak yang tidak baik. Untuk itu sudah seharusnya orangtua harus mengenali pola - pola asuh yang salah:
  1. Terlalu cepat dan terlalu banyak memberi bantuan. Sikap orangtua terlalu cepat dan sering memberikan bantuan pada anak, saat anak mencoba sesuatu misalnya memakai baju, memakai sepatu. Atau saking sayangnya kita sering terlalu menuruti kemauan anak, misalnya minta mainan langsung diberikan, minta baju langsung dibelikan.
  2. Membiarkan anak melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya.Permainan untuk anak sudah diatur sesuai usianya. Memberikan mainan yang tak sesuai usianya, hanya  membuat anak menjadi frustasi. Atau belum saatnya anak memakai baju sendiri, anda meminta dan membiarkan anak pakai baju sendiri. Sebagai orangtua harus mengenal kegiatan apa dan permainan apa yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak
  3. Tidak menerima rasa frustasi anak. Mengabaikan rasa frustasi anak , juga tidak baik. Kita tidak selamanya harus membiarkan anak mencoba melakukan sesuatu, padahal anak sudah frustasi. Jika anak sudah sangat frustasi, orangtua harus segera turun untuk memberi bantuan kepada anak.
  4. Tidak pernah memotivasi anak untuk mencoba lagi. Orangtua harus sering mendorong anak untuk mencoba, walaupun pernah frustasi karena hal itu.Asalkan sesuai dengan usianya. Misal tetap dorong anak untuk memakai baju, karena suatu saat anak sudah harus bisa memakai baju sendiri.
Kesimpulan yang harus kita lakukan adalah memberi kesempatan pada anak untuk belajar mengembangkan diri dan terus memotivasinya, serta memantau kegiatannya dan tetap berusaha memahami perasaan anak dalam menyikapi frustasinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar