Sabtu, 07 Juli 2012

Main 'Games' Dengan Ayah?

Main 'Games' Dengan Ayah?
Main video games memang mengasyikkan. Apalagi jika ayah juga ikut bermain. Seri, hangat , dan akrab. Inilah hasilnya. Bagaimana mewujudkan itu semua? Febri (6 tahun) begitu asyik di depan TV. Saking asyiknya, matanya tak berkedip. Sementara tangan mungilnya sibuk memencet - mencet tombol stick. Sesekali dai bereriak bila ada adegan seru. 
"Ayo Febri  makan dulu ," teriak Danu, ayahnya. 
"Sebentar Yah, tanggung nih,", sekenanya siswa kelas 1 sekolah dasar ini menjawab. 
Danu  geleng kepalan sambil mendekati Febri, " Sayang, makan dulu dong. Nanti setelah makan , Febri lawan ayah , mau ?!" 
"Apa? Ayah mau main games sama Febri? Asyiiik," teriak si kecil kegirangan.
Semenjak di rumah ada video games, Febri memang jadi keranjingan. Membuatnya lupa waktu , lupa mandi, lupa makan, dan lainnya. Namun sekedar geleng kepala tentu tak memecahkan masalah. Perlu tindakan proaktif agar anak tidak terlena permainan ini. Caranya ? Apa yang dilakukan Danu adalah salah satunya. Ia justru ingin memanfaatkan momen ini untuk lebih dekat dengan buah hatinya. Baginya, daripada kesal melihat si buah hati tak beranjak dari depat TV saat bermain games, lebih baik ikut terlibat. Pasti lebih seru, menyenangkan.

SELEKTIF
Games, diakui atau tidak, merupakan jendela bagi anak - anak untuk memenuhi keingintahuannya. Lewat games, anak mulai belajar bagaimana patuh pada aturan permainan, belajar sabar menunggu giliran, serta dapat melampiaskan perasaanya. Juga akan melatih perkembangan koordinasi tangan - mata karena anak dirangsang untuk melihat dan bereaksi cepat untuk menekan tombol yang ada dengan tepat. Video games adalah jenis games yang menggunakan perangkat TV, player console, joystick , dan lainnya. Anak akan menggunakan alat tersebut untuk memainkan dan bersikap sesuai dengan tuntutan permainan. Dalam video games , biasanya akan ditampilkan tokoh - tokoh yang berperan sebagai hero atau sebagai penjahat. Bisa juga tanpa adanya peran tokoh seperti balah mobil. " Adanya kompleksitas perangkat tersebut, tentu akan menuntut anak belah teknologi, sehingga tidak gaptek (gagap teknologi)," ujar Widiawati Bayu, Psi.

Namun, tak semua games baik untuk anak. Di sinilah, sambung Psikolog dari Psychological Practise, Test & Consultancy ini, peran orangtua sangat dibutuhkan. Games yang sarat kekerasan dan agresivitas tentu saja harus dijauhi. Kenapa ? Ya , karena perilaku kekerasan dari tokoh cenderung akan mudah diadaptasi anak. Apalagi dalam video games, anak dituntut untuk terlibat seolah ia menjadi bagian dari tokoh dan permainan itu sendiri. Imajinasi yang ada dalam benak anak lebih karena diciptkan oleh pembuat games. Setalah memilih permainan yang tepat, ta ada salahnya bila sesekali ayah (orangtua) menemani sik kecil dan menjadi 'lawan tandingnya'. Pasti lebih seru, hangat dan akan tercipta kelekatan di antara keduanya.

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar