Minggu, 08 Juli 2012

Main 'Games' Dengan Ayah? (part 2)

Main 'Games' Dengan Ayah? (part 2)
BERKOMUNIKASI SAMBIL BERMAIN
Benar, kehangatan akan muncul lewat permainan ini. Namun tentu saja kondisi tersebut tak hadir dengna sendirinya. "Perlu adanya interaksi emosional di antara keduanya," imbuh pengajar STP Trisakti, Bintaro, Jakarta ini. Maksudnya ? Ya, tentu saja kehadiran ayah tak semata - mata menjadi 'lawan tanding' si kecil. Sambil bermain, sebaiknya ayah dan anak bisa saling bercanda dan berkomunikasi. Aya juga dapat menjelaskan tokoh dalam games, unsur teladan apa yang bisa dipetik, dan apa saja yang tak boleh dilakukan. Agar penjelasan mudah dipahami anak, saran Widiawati, gunakan bahasa sederhana sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Perlu diketahui, kemampuan anak bermain games muncul secara pesat saat usia SD ( 6 - 12 tahun ).

Ayah tak piawai bermain video games ? Tenang. Tidak selamanya seorang ayah lebih pandai dari anak untuk hal - hal tertentu. Karenanya tak perlu malu bila ayah minta diajari anak bagaimana cara bermain games tersebut. Sikap ini tentu akan menumbuhkan perasaan bangga pada anak. Selain itu, bisa saja ayah dan anak melakukan diskusi dan tukar pikiran sehingga melalui ajang ini akan diperoleh manfaat komunikasi timbal balik dan efektif. 

AGAR TAK KERANJINGAN 
Memang, bermain games akan membuat anak ketagihan untuk terus memainkannya, lagi dan lagi. Padahal, bagaimanapun, anak perlu bermain dan bersosialisasi dengan teman - temannya. Agar dua kepentingan itu bisa berjalan seiring, saran Widiawati, orangtua juga harus punya aturan konsisten-disepakati bersama- kapan anak diperbolehkan main games. Dengan demikian, anak sadar ia boleh main games pada hari tertentu saja, misal hari sabtu dan minggu. 

Tak hanya itu. Orangtua juga harus memikirkan alternatif games yang harus diberikan ke anak dengan tujuan memperkaya pengetahuan. Misalnya bermain ular tangga, monopoli, catur jawa, main kelereng, kartu kwartet, dan seterusnya. Usahakan agar permainan itu melibatkan teman - temannya agar anak juga bisa bersosialisasi. Jangan lupa, disiplin yang ketat dan aturan yang konsisten tak hanya untuk anak, juga buat ayah. Sebab, bisa jadi saking asyiknya main games dengan si kecil membuat ayah justru keranjingan. Lalu, dia memainkan tanpa sepengetahuan anak atau diluar waktu yang telah disepakati bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar