Minggu, 22 Juli 2012

Tips Menghadapi Anak Yang Mencuri

Tips Menghadapi Anak Yang Mencuri
Jika anak SD mencuri, maka reaksi orangtua pertama kali adalah marah. Lain halnya kalau anak masih TK, orangtua bisa lebih halus menanggapi kesalahan anak. Mencuri adalah perbuatan yang tidak baik,dan orangtua tidak ingin anaknya menjadi pencuri. Sikap mencuri anak usia  5 - 6 tahun bukan bibit tidak baik yang harus ditakuti. Ada 3 alasan anak melakukan hal itu;
  1. Anak masih sulit mengendalikan dorongan dari dalam dirinya. Kesadaran dan rasa ingin anak sudah berkembang. Anak sadar bahwa mencuri salah, namun rasa ingin memiliki (dorongan) dalam diri ini lebih kuat ketimbang kesadarannya. Maka itu jangan terlalu cepat menghukum dan memarahi anak saat ia mencuri, karena dorongan dalam dirinya masih belum bisa dikendalikannya.
  2. Ingin menyamai teman. Melihat temanya memiliki sesuatu , anak ingin memilikinya. Perasaan tidak ingin kalah dari temannya membuat mereka melakukan hal salah ini.
  3. Ingin punya rahasia. Ada kasus tertentu yang di mana anak ingin memiliki rahasia.
Namun orangtua tidak hanya mendiamkan perbuatan yang salah ini, dan harus dengan cara yang benar dalam menasehati kesalahan itu. Berikut tips untuk memberi tahu anak tentang kesalahannya saat mencuri:
  1. Berkomentar sebiasa mungkin. Jangan dengan marah atau nada kesal.Contoh : "Wah darimana ya mainan ini?" 
  2. Jelaskan kesalahan anak tanpa berbelit - belit. Misalkan " Tidak baik mengambil barang milik orang lain." Dan jangan terlalu memberikan penjelasan yang panjang lebar. Cukup satu kalimat saja untuk memberikan penjelasan.
  3. Sisipkan nilai - nilai positif dengan cara positif. Misalkan " Mencuri itu tidak disukai Allah" ( nilai agama)
  4. Terima perasaan anak. Coba pahami perasaan anak. Anak mencuri, karena ia tidak memiliki mainan yang tidak dipunya di rumahnya. 
  5. Tegaskan pada anak harus memperbaiki keadaan. Minta anak untuk memulangkan kembali barang yang telah diambilnya. 
  6. Bantulah anak untuk menemukan cara agar tidak perlu mencuri lagi. Misalnya anak sangat menyukai benda yang dicurinya, beri tahu padanya lebih baik meminjam atau menabung untuk membeli barang ( mainan )
Cobalah untuk memahami perasaan anak Anda, dan jangan langsung memberi hukuman. Sebab untuk usia 5 -6 tahun , mencuri adalah hal yang masih dianggap wajar. 

Sabtu, 21 Juli 2012

Pola Asuh Salah, Anak Frustasi

Pola Asuh Salah, Anak Frustasi
Tak hanya orang dewasa yang mengalami frustasi, anak sejak umur batita ( bawah tiga tahun ) sudah mengalami frustasi. Cara orangtua menanggapi frustasi batita, akan mempengaruhi frustasi anak pada usia berikutnya.Menurut Barbara K. Polland, Ph.D.profesor perkembangan anak dan remaja di California State University di Northridge Amerika Serikat, "mengalami frustasi akan mengajarkan anak batita cara mengatasi rintangan - sebuah keterampilan berharga yang dibutuhkan sepanjang hidupnya." Pola asuh orangtua dalam menyikapi rasa frustasi anak harus bijak. Rasa frustasi muncul akibat keinginan yang tidak terpenuhi. Anak pada usia prasekolah , yaitu umur 3 - 4 tahun, mulai memiliki banyak keinginan. Mereka ingin bisa memakai baju sendiri, punya mainan baru, bisa memakai sepatu sendiri, dll. 

Ada dua faktor utama yang membuat anak mudah frustasi. Pertama anak usia prasekolah masih mengembangkan kemampuan fisiknya, sehingga mereka kadang berharap dan merasa mampu melakukan segalanya.Kedua anak usia prasekolah sudah memiliki banyak keinginan. Lihat ini kepingin, lihat itu kepingin. Tapi pada kenyataannya mereka tidak selalu mendapatkan yang mereka inginkan.

Selain kedua faktor utama di atas, ternyata pola asuh orangtua turut mempengaruhi rasa frustasi anak. Pola asuh yang salah membuat anak menjadi frustasi. Rasa frustasi yang berlebihan akan membuat perkembangan mental anak yang tidak baik. Untuk itu sudah seharusnya orangtua harus mengenali pola - pola asuh yang salah:
  1. Terlalu cepat dan terlalu banyak memberi bantuan. Sikap orangtua terlalu cepat dan sering memberikan bantuan pada anak, saat anak mencoba sesuatu misalnya memakai baju, memakai sepatu. Atau saking sayangnya kita sering terlalu menuruti kemauan anak, misalnya minta mainan langsung diberikan, minta baju langsung dibelikan.
  2. Membiarkan anak melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya.Permainan untuk anak sudah diatur sesuai usianya. Memberikan mainan yang tak sesuai usianya, hanya  membuat anak menjadi frustasi. Atau belum saatnya anak memakai baju sendiri, anda meminta dan membiarkan anak pakai baju sendiri. Sebagai orangtua harus mengenal kegiatan apa dan permainan apa yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak
  3. Tidak menerima rasa frustasi anak. Mengabaikan rasa frustasi anak , juga tidak baik. Kita tidak selamanya harus membiarkan anak mencoba melakukan sesuatu, padahal anak sudah frustasi. Jika anak sudah sangat frustasi, orangtua harus segera turun untuk memberi bantuan kepada anak.
  4. Tidak pernah memotivasi anak untuk mencoba lagi. Orangtua harus sering mendorong anak untuk mencoba, walaupun pernah frustasi karena hal itu.Asalkan sesuai dengan usianya. Misal tetap dorong anak untuk memakai baju, karena suatu saat anak sudah harus bisa memakai baju sendiri.
Kesimpulan yang harus kita lakukan adalah memberi kesempatan pada anak untuk belajar mengembangkan diri dan terus memotivasinya, serta memantau kegiatannya dan tetap berusaha memahami perasaan anak dalam menyikapi frustasinya.

Jumat, 20 Juli 2012

Tips Menjawab Pertanyaan Anak

Tips Menjawab Pertanyaan AnakSeperti pernah saya posting sebelumnya, bahwa anak batita sangat senang mengulang pertanyaan. Maka seringkali orangtua juga orangtua merasa bosan dengan pertanyaan anak, tapi pernah saya tulis juga , bahwa pertanyaan yang berulang - ulang ini bukan tanpa alasan. Untuk itu kita harus punya cara untuk menngarahkan  dan mendidik pertanyaan anak yang berulang - ulang tersebut. Berikut ini ada beberapa tips dari Dr. Brenda Hussey - Gardner, Ph.D.,M.P.H spesialis perkembangan anak dan juga penulis buku ' Parenting to Make a Differences: Your One to Four Year Child' , yang bisa anda lakukan untuk mengarahkan pertanyaan anak yang berulang tersebut:
  1. Bicaralah dengan anak. Bila anak menanyakan kenapa induk kucing mengigit anaknya, dan Anda sudah menjawab bahwa induk itu bukan mengigit anaknya melainkan menggendong anaknya. Maka itu adalah bahan pembicaraan yang tepat adalah membicarakan tentang induk kucing. Jangan kita malah sibuk membicarkan hal lain , misalnya tempat rekreasi. Sebab untuk saat itu , anak lebih tertarik dengan masalah induk kucing yang mengigit anaknya. Oleh sebab itu pulalah , maka anak sering menanyakan hal itu berulang - ulang.
  2. Kesempatan untuk membenarkan cara pengucapan anak. Ini adalah kesempatan Anda untuk membenarkan bahasa pengucapan anak. Anak batita masih sering kurang pas, misalkan menyebut kura - kura menjadi kula - kula. Jadi saat anak mengulang pertanyaan ini adalah kesempatan Anda untuk membetulkan bahasa atau kata - kata anak yang salah. Tapi jangan secara frontal mengatakan bahasanya salah. Misalnya anak anda menanyakan " napa kula - kula-nya? " Maka jawablah dengan bahasa atau kata - kata yang benar yaitu " oh kura - kura-nya sedang makan."
  3. Berikan Pujian. Pujilah pertanyaan anak , dan lakukan denga tulus. Hal ini membuat anak menjadi bangga. Pujian misalnya " Pertanyaan yang bagus." Lakukanlah ini, walau anak terus mengulang pertanyaan. Ada baiknya memuji anak, baru memberikan jawaban. Dan usahakan jawabanya mengandung point no 2 yaitu kesempatan membenarkan bahasa pengucapan anak.
  4. Bantu anak menyimak. Kesempatan ini bisa kita manfaatkan untuk anak belajar mendengar. Misalkan anak bertanya apa di luar hujan ? Padahal di luar sedang hujan, maka marilah kita mengajaknya untuk mendengarkan suara hujan. Atau bisa juga ditambahkan dengan menyanyikan lagu tik - tik ada hujan di atas genteng. Semuanya bisa anda atur dan sesuaikan dengan pertanyaan yang anda ajukan.
  5. Baca buku. Kesempatan berikutnya adalah mendidik anak gemar membaca. Ketika anak mengajukan pertanyaan , maka ada cara lain yang bisa anda gunakan yaitu mencari jawabannya di buku. Ini memberi kesempatan untuk menumbuhkan minat baca pada anak Anda.Buku - buku di sini haruslah buku anak - anak yang penuh dengan gambar - gambar , jangan buku bacaan yang berat.
Jadi banyak cara dan kesempatan yang tersembunyi saat anak mengajukan pertanyaan yang sama secara berulang - ulang. Kesempatan Anda untuk mendidik anak menjadi cerdas dan kreatif. Semoga artikel ini berguna untuk Anda.

Kamis, 19 Juli 2012

Tahukah Anda Bahwa Batita Senang Mengulang Pertanyaan ?

Tahukah Anda Bahwa Batita Senang Mengulang Pertanyaan ?Anak Batita yaitu anak Bawah Tiga Tahun , alias anak yang usianya masih di bawah tiga tahun. Anak batita senang sekali mengulangi pertanyaan yang sama secar berulang - ulang. Banyak orangtua yang pada akhirnya merasa bosan dengan pertanyaan anak yang berulang - ulang tersebut. Tak jarang pula banyak anak batita yang suka membuat pertanyaan yang sudah ia ketahui jawabannya. Tapi kita sebagai orangtua, janganlah lekas marah atas pertanyaan yang sama tersebut. Kita harus tahu kenapa anak senang mengulangi pertanyaan tersebut. Menurut Dr. Brenda Hussey - Gardner spesialis perkembangan anak dan juga penulis buku 'Parenting to Make a Difference: Your One to Four Year Old Child', mengatakan ada tiga alasan yang membuat anak mengulangi pertanyaan , yaitu :
  • Menguji pengetahuan dan ingatannya sendiri. Anak sering memberikan pertanyaan yang sama atas alasan untuk menguji daya ingat dari dirinya sendiri.
  • Ingin memberi tahu. Pertanyaan yang diluncurkan dari anaknya , sebenarnya bukan pertanyaan. Melainkan cara si anak untuk memberi tahu orangtuanya atau siapapun, tentang hal yang ingin diberitahukannya. Misal anak menanyakan jam berapa ayah pulang secara berulang - ulang. Itu adalah tanda dari anak untuk memberi tahu bahwa ayahnya akan pulang.
  • Anak ingin kita menanyakan hal yang sama kepadanya. Pertanyaan yang sering dilontarkan anak , adalah karena ingin agar orangtuanya menanyakan itu padanya. Pertanyaan yang dilontarkan kepadanya adalah untuk menguji daya ingat anak ,seperti point alasan no. 1 di atas. Ketika Anda menanyakan pertanyaan itu ke anak , maka anak akan berusaha menjawab pertanyaan itu. Dan anak ingin tahu apa jawabannya itu benar, dan hal itu menunjukkan apakah anak sudah mengingat jawaban yang pernah diberikan kepadanya.
Sebagai orangtua kita harus belajar mengenal anak kita dengan sungguh - sungguh. Sabar aja tidak cukup, sebab saat kesabaran sudah habis, yang timbul kita  menjadi marah. Pengetahuan tentang kebiasaan anak mengulang pertanyaan ini, semoga memberikan anda pengertian dan pemahaman bahwa anak sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.

Rabu, 18 Juli 2012

Permainan Mengembangkan Kreatifitas Anak

Melanjutkan artikel sebelumnya ‘kreatifkah anakku ?’ , maka saya akan memberikan beberapa kegiatan dan aktifitas yang dapat merangsang si kecil menjadi lebih kreatif. Siapa orangtua yang tak senang jika anaknya kreatif dan cerdas, begitu pula Anda ? Banyak orangtua malah memberikan mainan yang tidak baik untuk anaknya. Sering saya bertemu balita yang sudah main hp. Si anak merasa senang dengan mainan yang satu ini, padahal itu bukan mainan. Tapi ketika hp itu diambil, maka si anak akan menangis. Memang tidak salah anak memegang atau memainkan hp, tapi hp yang ia pegang itu tidak akan merangsang kreatifitasnya. Dan bila anak menangis saat hp-nya diambil , itu terlebih karena rasa ingin tahu anak yang amat besar. Mari kita arahkan rasa ingin tahu anak pada sesuatu yang bisa membuatnya lebih kreatif. Simak beberapa kegiatan dan aktifitas untuk anak di bawah ini:
  1. Menyusun balok. Permainan kuno dan masih tetap ada. Bahkan di semua sekolah TK atau Paud mainan ini wajib ada. Permainan yang satu ini memberikan anak untuk berkreasi lebih terhadap balok yang disusun. Jadi tak hanya di sekolah saja, maka di rumah juga wajib ada. Tapi ingat bantu anak untuk memainkan ini, dan temani ia dalam permainan ini.
  2. Mewarnai batu. Gunakan batu – batu ceper , dan berilah warna pada batu tersebut. Berilah contoh bagaimana mewarnainya. Dan biarkan anak anda memberikan warna dengan kreasinya sendiri.
  3. Bermain Musik. Ide yang satu ini agak aneh, tapi jangan keliru dulu. Kreatif itu mencipta dari hal yang belum ada , alias aneh. Bermain musik tidak menggunakan alat musik, melainkan peralatan dapur atau makan, seperti panci, sendok, sumpit, botol yang diisi beras, dll. Tapi jangan gunakan peralatan dapur yang masih terpakai, pakai yang sudah rusak atau tidak terpakai.
  4. Buat cerita. Pancing anak membuat cerita. Anda mulai dengan satu kalimat dulu, lalu anak meneruskan dan mengembangkannya menjadi cerita. Bisa juga dengan membuat potongan gambar dari koran atau majalah , sehingga menjadi sebuah cerita.
  5. Biarkan anak mengambil mainannya sendiri. Letakkan mainan anak pada tempat yang agak tinggi, misalnya meja atau rak. Tempat itu harus tidak bisa dijangkau dengan tangan anak. Siapkan alat bantu di dekat tempat penyimpanan  mainan itu, sehingga anak dapat menggunakan alat bantu tersebut untuk mengambil mainannya.
Dari semua ide permainan di atas, hal yang harus Anda perhatikan adalah menemaninya bermain dan tetap mengawasinya agar tidak melakukan hal yang membahayakannya. Sekian tips permainan kreatifitas anak, semoga dapat membantu mengembangkan kreatifitas anak.
     
     

Selasa, 17 Juli 2012

Kreatifkah Anakku ?

Kreatifkah Anakku ? Senangnya memiliki anak yang aktif dan kreatif. Hal ini menunjukkan betapa cerdasnya dia. Ada saat kita dibuat kesal dengan sikap kreatifnya yang berlebihan. Semua tembok dicoret – coret, mainan baru jadi rusak, dan seisi rumah jadi berantakan. Melihat keadaan itu , kita pasti marah. Namun dengan memarahinya, sama artinya Anda membatasinya dalam berkreatifitas. Menurut Prof. Dr. S.C. Utami Munandar penulis buku ‘ Mengembangkan bakat dan kreatifitas anak sekolah’,” kreatifitas anak tumbuh dan berkembang pada saat usia 1 – 4 tahun.” Pada usia itulah sel – sel otak anak sedang tumbuh dan berkembang dengan pesat. Untuk itu janganlah membatasi , apalagi memarahi perbuatan kreatif anak. Lalu bagaimana mengembangkan kreatifitas anak dan tetap mengarahkannya agar menyalurkan sesuai dengan kaidah yang benar. Perhatikan tips berikut ini :
  1. Ciptakan lingkungan yang membuat anak menjadi kreatif. Membawa anak bermain di taman atau pasir akan membantu anak untuk lebih kreatif. Biarkan anak melakukan apapun, tapi tetap anda perhatikan keselamatannya. Ingat jangan memarahinya, saat dia berbuat hal yang berbahaya atau melakukan kesalahan, tapi ajaklah dia untuk melakukan hal yang lain.
  2. Pahamilah. Anak paling suka mencoret – coret di dinding rumah , atau lantai. Biarkanlah anak melakukan itu. Cobalah solusi untuk memberikan papan tulis atau kertas, agar menjadi media dia mencoret – coret. Atau bisa juga memberikan kertas gambar , untuk dia menggambar. Kemudian hasil gambarnya anda bingkai atau cukup anda panjang di dinding rumah. Intinya anda berusaha memahami kemauannya, tapi sambil mengarahkannya ke hal yang lebih baik.
  3. Rangsang. Berilah permainan yang merangsang anak untuk kreatif. Ada banyak mainan sekarang untuk anak dari berbagai usia , yang dapat menumbuhkan kreatifitasnya. Temani anak anda dalam melakukan permainan itu, sehingga anak merasa bersemangat dan senang dengan permainan itu.  Berilah pujian untuk keberhasilannya.
  4. Tekankan pada proses. Jangan memaksakan anak menjadi jenius saat masih balita. Memang ada beberapa orangtua yang memaksakan anaknya untuk mengikuti beberapa kegiatan ,agar anaknya besok menjadi pemusik , pebalet , dll. Biarkan anak menentukan sendiri apa yang dia suka. Dan biarkan ia berkembang sesuai dengan usianya.
  5. Jangan mengkritik. Kritik adalah tanda tidak puas. Kritik tidak membuat anak menjadi lebih baik, malah membuat anak menjadi mundur. Setiap kritik yang kita lancarkan , hanya membuat anak menjadi kecewa.
Kelima tips di atas akan membantu anda dalam mengembangkan kreatifitas anak. Semoga bermanfaat untuk mengembangkan kreatifitas anak anda.

Senin, 16 Juli 2012

Cara Menasehati Anak Yang Ngomong Kotor

Cara Menasehati Anak Yang Ngomong KotorPergaulan sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian anak. Tapi mengurung anak agar tidak terinfeksi dampak negatif , adalah perbuatan keliru. Pernah saya temui orang tua yang mengurung anaknya , hanya  takut anaknya terpengaruh hal negatif. Dampaknya malah anak itu jadi tidak pernah bergaul dan tak bisa bersosialisasi. Memang tak semua orangtua mendidik anaknya dengan benar, kita yang mendidiknya dengan benar saja pun , tetap masih gagal mendidik anak menjadi benar. Pengaruh teman – teman dari anak sangat kuat . Akibatnya kita kaget, bila suatu saat mendengar anak  memaki dengan kata kasar.
Jika anda sering menggunakan omongan kasar , jangan harap anak  tidak akan mengucapkan omongan kasar. Anak cenderung meniru setiap perbuatan dan perkataan dari sekitarnya. Jika orangtua kasar dalam omongan, anak pasti juga kasar dalam omongannya. Dan bila teman – temannya terbiasa bicara kasar, anak mengikuti temannya bicara kasar.  Sikap mengurung atau menjauhkannya  dari teman –temannya yang berpengaruh negatif jugalah tidak baik, karena membentuk anak jadi pilih – pilih dalam berteman. Berikut ini saya berikan beberapa tips yang membantu anda untuk mengatasi kebiasaan anak yang suka bicara kasar atau ngomong kasar:
  1. Jangan memberi hukuman. Tidak ada orang yang suka dihukum , termasuk anak kita. Memberi cambuk , menjewer , atau  hukuman lainnya akan berdampak buruk pada anak. Anak menjadi takut melakukan sesuatu , karena takut salah. Hal ini akan berdampak sampai besar, yang membuat anak selalu menjadi takut salah.
  2. Jangan ditanggapi. Ketika anak memaki dengan omongan kasar, cara terbaik adalah mendiamkan atau tidak menanggapinya. Cuekin aja kemarahannya, saat ia memaki dengan kata kasar . Daripada Anda menghukum , ini cara paling ampuh.
  3. Alihkan dengan kata – kata lain. Jika si anak terus mengulangi kata – kata kasar itu, beri tahu ia agar mengganti kata kasar itu dengan kata lain. Kebetulan di tempat saya bekerja ada istilah baru jika ingin marah, teman saya membuat kata – kata makian baru ketika dia marah, ia mengatakan ‘kucing’. Ini membuat orang mendengarnya tidak marah dan malah jadi lucu, ketimbang ia  mengatakan ‘ anjing’.
  4. Kenalkan aturan. Beri pengertian pada anak , bahwa kata – kata kasar itu membuat orang tersinggung. Berikan pengertian ini dengan nada bicara yang tenang, jangan menjelaskan pada anak dalam nada bicara marah.
  5. Mulut kita, harimau kita. Hati – hatilah kita sebagai orangtua saat marah kepada pasangan atau anak. Jika kita sering menggunakan kata – kata kasar, maka anak akan ikut menggunakan kata – kata kasar. Anak cenderung mencontoh orangtua dan sekitarnya.
  6. Beri perhatian pada hal positif. Berikan lebih banyak pujian pada anak  saat dia melakukan hal positif. Hal ini selaras dengan mengabaikan anak ketika berbuat hal negatif. Semakin sering pujian ia dengar , maka ia akan berusaha untuk membuat lebih banyak hal positif, agar terus mendapat pujian dari orangtuanya.
Semoga beberapa tips ini berguna untuk anda dalam mengatasi anak yang suka berbicara kasar. 

Minggu, 15 Juli 2012

Mengenali Perangai Bayi

Mengenali perangai seseorang dapat dilihat sejak masa bayi. Kata siapa bayi tidak memilki perangai ? Bayi yang polos dan lugu , ternyata sudah memiliki perangai dalam mensikapi setiap kejadian dan peristiwa. Ada bayi yang sangat rewel , ketika popoknya basah. Ada bayi yang menangis ketika digendong orang lain. Adapula bayi yang sangat familiar dan selalu tersenyum dengan siapa saja. Perangai bayi ini bukanlah suatu hal yang orangtua harus kuatirkan , karena perangai akan berubah sesuai dengan tempaan dan didikan nantinya dalam keluarga. Tapi bukan berarti tidak perduli, dan sudah semestinya kita untuk mengenal perangai anak kita , agar dapat membinanya dan membentuknya menjadi anakyang baik. Mengenali perangai bayi ini akan membantu kita bagaimana cara kita mengasuhnya ataupun mencari pengasuh yang tepat untuk anak kita.
Menurut Carol Ostergen, Ph.D, dari  University of Winconsin – Extension , ada tujuh variable dasar mengenai perangai bayi, yaitu : kemampuan menyesuaikan diri, keteraturan, ketekunan, kemampuan mengalihkan perhatian, kepekaan, tingkat keaktifan, dan kekuatan ekspresi. Ketujuh perangai ini menjadi dasar untuk kita mengenal lebih jauh tentang si buah hati . Di bawah ini akan saya jelaskan mengenai tujuh perangai bayi tersebut :
  1. Adaptasi ( kemampuan menyesuaikan diri) bayi dengan tipe ini memiliki ciri sangat mudah dekat dengan siapapun misalnya tidak mudah nangis bila digendong dengan orang lain, serta mudah akrab dengan orang lain. Ia pun juga mudah menerima segala suasana , diajak ke mana saja tidak rewel , walaupun panas tempatnya, serta sangat mudah menerima makanan apa saja, alias tidak pilih – pillih makanan. Serta senang melakukan sesuatu yang baru dalam setiap permainan atau kegiatannya.
  2. Regularity ( keteraturan) bayi tipe ini sangat sangat teratur dalam hidupnya , ada jam yang tertentu yang menunjukkan bahwa dia harus makan atau tidur, bila tidak bayi ini akan menangis atau rewel. Jadi orangtua harus hafal benar kapan ia biasa tidur dan kapan ia biasa lapar dan ingin makan.
  3. Persistence ( ketekunan) Bayi  tipe ini sangat senang dengan sebuah permainan , ia akan memainkan itu dalam waktu yang sangat lama. Ia tidak akan mudah tergoda dengan permainan yang lain sebelum ia merasa puas akan permainannya itu. Begitu pula dalam hal kehidupan lainnya ia akan tertarik pada suatu hal itu dan terus mengeksplorasi hal baru itu , dan tidak mudah stres atau frustasi karena harus melakukan hal itu. Bayi yang tidak memiliki tipe  ini biasanya mudah frustasi bila ia menemukan kesulitan dalam mengeksplorasi hal itu. Misalnya ketika ia ingin menggapai sebuah mainan , tapi ia tidak bisa menggapainya , maka si bayi mudah marah dan menangis. Bayi yang memiliki ketekunan akan terus berusaha sampai ia berhasil menggapai mainan itu , dan tidak menunjukkan kekesalannya bila ia tidak berhasil menggapainya.
  4. Distractibility ( kemampuan mengalihkan perhatian )Bayi tipe ini akan sangat mudah ditenangkan saat dia rewel. Dengan sedikit  iming –iming mainan atau cara apapun , bayi ini akan cepat diam. Bayi tipe ini akan mudah tertarik dengan mainan baru, jadi bila dia sibuk dengan mainannya , dan Anda memberikan mainan baru , maka si bayi akan terpengaruh untuk mencoba mainan baru yang Anda tawarkan itu.
  5. Sensitive ( kepekaan)Ia sangat mudah rewel ,ketika ngompol atau buang air. Biasanya orang tua akan segera tahu bila si bayi menangis pasti ada sesuatu hal yang membuatnya tidak nyaman. Tidak hanya itu si kecil tipe ini sangat peka bila ada suara gaduh atau bising, dan sangat mudah terbangun bila ada suara bising yang menggangu tidurnya. Bayi ini akan sangat peka dan menangis atau rewel untuk semua hal yang membuatnya tidak nyaman.
  6. Aktivity level ( tingkat keaktifan) Ciri si bayi adalah tidak bisa diam, diam akan terus bergerak dan senang melakukan kegiatan. Orangtua harus ekstra hati – hati jika bayi Anda tipe ini, karena si bayi tidak bisa ditinggal. Bayi ini sangat mudah jatuh bila ditaruh di tempat tidur yang tidak memiliki pelindung atau penutup . Dan si bayi akan mudah menangis bila Anda menaruhnya car seat ( dudukan bayi di mobil ) .
  7. Intensity (kekuatan ekspresi) Bayi tipe ini sangat  mudah rewel. Kadang si bayi rewel  tanpa alasan suatu yang jelas. Dan orang tua harus super mencari tahu apa yang membuatnya rewel. Dan tangisan si bayi biasanya sangat keras dan mudah mengamuk atas sesuatu hal yang membuatnya terusik dan tidak nyaman.
Inilah ketujuh perangai bayi , yang dapat menjadi pedoman Anda bagaimana mengasuh buah hati Anda. Atau dapat menjadi pedoman Anda untuk mencari pengasuh yang tepat sesuai dengan perangai si bayi. Semoga bermanfaat untuk anda.

Sabtu, 14 Juli 2012

Disleksia


Disleksia
Disleksia bukanlah penyakit menular yang mematikan . Biarpun begitu, anak dengan disleksia perlu mendapat penanganan yang  tepat. Semua anak, pada awal masuk sekolah pastilah pernah mengalami kesulitan membaca dan menulis. Ini wajar karena persepsi visual anak – anak di bawah umur 8 tahun masih belum matang. Tak heran, banyak anak kelas 1 dann 2 SD yang masih salah menulis dan membaca. Agar anak lancer dan piawai menulis butuh banyak latihan dan daya juang. Namun bila kesulitan – terbata membaca, tulisannya buruk, dan tak menggunakan spasi dalam menulis – itu menetap mesik anak sudah berada di kelas 5 atau 6 berarti ada sesuatu yang salah. Boleh jadi anak mengalami gangguan disleksia.

KESULITAN BELAJAR SPESIFIK
Secara harafiah disleksia berarti salah membaca. Lebih spesifik disleksi, menurut pakar disleksia ‘ Lucia RM Royanto, Msi, MspEd, adalah sebuah kondisi di mana anak mengalami kesulitan belajar spesifik. Ini berkaitan dengan penggunaan keterampilan dasar seperti membaca, mengeja, dan menulis. Psikologi pendidikan yang kerap menjadi pembicara soal disleksia ini menjabarkan, anak disleksia memiliki ciri mengalami kesulitan mengerjakan sesuatu yang memerlukan hafalan, susah mengurut sesuatu, dana memiliki gerak motori  yang kurang baik.
Disleksia ini disebabkan oleh tiga factor. Pertama, factor biologis yang disebabkan oleh adanya sedikit luka (lension) pada otak. Ini dikenal disfungsi mimimum otak (DMO). Disfungsi ini dapat terjadi pada saat anak masih dalam kandungan, atau ketika lahir ia kekurangan oksigen sehingga sedikit merusak otak. Trauma atau benturan pada kepala pun bisa menyebabkan terjadinya DMO. Meski begitu, anak – anak dengan DMO secara umum tingkat intelgesianya masih tergolong rata – rata. Bahkan banyak pula yang di atas standar. Faktor  kedua adalah karena faktor kognitif  dan pemrosesan. Sementara faktor ketiga , karena perilaku. Gangguan disleksia tidak mengenal batas ekonomi. Sebut saja di Amerika Serikat , tercatat ada 10% - 15% anak sekolah mengalami disleksia. Menariknya, menurut psikolog dari sekolah Pantara, Fitriani Sumarlis, disleksia ternyata bisa juga ‘diturunkan ‘ . seperti mantan PM Singapura Lee Kwan Yeuw yang disleksia misalnya, anak lelakinya pun mengidap disleksia. Bahkan sejumlah tokoh kesohor pun tercatat mengalami ini. Ada Alberti Einstein yang jenius, Tom Cruise yang aktor kesohor, atau George W Bush. Tapi mereka tahu bagaimana mensiasatinya sehingga bisa terus maju dan mengoptimalkan potensinya.

Meski begitu, anak dengan disleksia , papa Lucia, berpotensi mengalami kegagalan dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Anak – anak ini kerap memandang dirinya negatif dan kurang kompeten. Bila  sudah begitu yang berikutnya adalah efek domino. “ Akibatnya mereka sering dihinggapi rasa cemas, gugup , kurang motivasi, serta tentang konsentrasi dan perhatian yang pendek”, imbuh Lucia yang menyelesaikan masternya di University of New Castle , Australia . Karena efeknya pada anak cukup serius tak heran DR. Arief Rachman, M.Pd., berkeyakinan anak dengan gangguan ini perlu penganganan khusus. Sekolah regular, tutur Arief, takkan mampu menanggulangi anak disleksia. “ Mereka harus mendapat penanganan khusus” tandas Arief. Untungnya, kini di Jakarta ada sekolah Pantara, yang khusus  menangani anak – anak disleksia.

IDENTIFIKASI
Sebagai orangtua, sesungguhnya kita bisa mendeteksi ada tidaknya disleksi pada anak sedini mungkin. Amati saja apakah dalam kesehariannya anak sering merasa kesulitan membedakan antara kiri dan kanan, atas dan bawah, kemarin dan besok, atau siang dan malam. Atau ia kerap menabrak dinding yang terlihat jelas, sering tersesat saat berada dalam lingkungan baru, tak menyukai mainan puzzle, susah membedakan  huruf – huruf yang bentuknya mirip seperti ‘b’ dan ‘d’, ‘p’ dan ‘q’ , ‘m’ dan ‘w’. Mereka juga sering kehilangan ‘jejak’ ketika sedang membaca dan terbalik membaca kata – kata yang mirip bentuknya. Umpamanya ‘ubi’ dengan ‘ibu’. Anak – anak disleksia juga mengalami kesulitan dalam mengingat kata – kata yang dilihatnya. Jika si anak mengalami hal ini setelah usianya di atas 8 tahun , kemungkinan besar ia menderita disleksia.

Sementara itu psikolog dan praktisi terapis pada anak – anak disleksia menggunakan tes – tes psikometri untuk memastikan ada tidaknya masalah dalam intelegensi pada anak. Tes –tes seperti itu dapat memudahkan identifikasi ada tidaknya masalah dalam pemoresan informasi  dari segi visual , auditif, atau pun motoriknya. Jadi pemeriksaan menyeluruh harus dilakukan untuk  membantu anak disleksia. Ini berguna untuk mengetahui potensi anak dan  ketidakmampuannya. Dengan begitu intervensi yang akan dilakukan pus bisa lebih terfokus. Buakan ingn mengecilkan hati. Sayang, disleksia tak bisa disembuhkan secara total. Tapi , dengan terapi, anak – anak disleksia dapat mengetahui ‘ celah’ mana yang bisa dilakukan untuk mengeliminir kesalahannya. Umpamanya saja, untuk menghindari salah menulis ‘b’ dan ‘d’ , maka anak dapat membedakan kedua huruf tersebut, dan kemungkinan untuk salah pun bisa dihindari. Atau misalnya, anak kelak juga dapa menyeleksi bidang pekerjaanny, misalnya bidang pekerjaan yang tak berkaitan dengan tulis menulis.

Dengan terapi, misalnya anak akan terlatih untuk menangkap atau melempar bola dengan kedua tangannya. Dengan begitu oang yang menerima bola takkan  tahu bahwa ia tak tahu mana yang kiri dan kanan. Ah Anda tak perlu kuatir berlebihan,. Cukup banyak mereka  yang memiliki gangguanini menjadi tokoh  besar. Itu artinya si kecil pun bisa beprestasi sesuai dengan kompetensinya.

Jumat, 13 Juli 2012

Jangan Lakukan Saat Menggendong Bayi


Jangan Lakukan Saat Menggendong Bayi
  • Menopang bayi dengan satu lengan / tangan, ini akan menyebabkan otot bayi terkilir / tergelincir dan tentunya jatuh.
  • Menggendong dalam ketergesaan.
  • Hanya mengangkat kepala atau leher saja tanpa menopang pinggang, punggung , dan bokong bayi. Ini bisa membuat bayi keseleo atau terjatuh.
  • Mengikat kain gendong kuat sempurna hingga membuat bayi sesak atau kurang nyaman.
  • Mengangkat bayi dari punggung dan bokong. Tapi mulailah dari kepala dan leher, baru setelah itu raihlah bokong dan punggungnya.


Kamis, 12 Juli 2012

Cara Meletakkan Usai Digendong


Cara Meletakkan Usai Digendong
  • Tahan bagian leher dan kepala dengan telapat tangan.
  • Tangan yang lain , menahan bokong bayi.
  • Letakkan perlahan, mulai dari bokong, di tempat tidur.
  • Sementara itu tangan yang satunya tetap menahan leher dan kepala si bayi.
  • Kemudian lepaskan tangan yang menahan bokong bayi lalu gunakan untuk menahan bagian ujung kepala bayi.
  • Sambil meletakkan kepala si kecil berhati – hati di tempat tidur, tariklah perlahan tangan yang semula menahan leher dan kepalanya

Rabu, 11 Juli 2012

Cara Menggendong Bayi Yang Benar

Cara Menggendong Bayi Yang Benar
Banyak orangtua yang langsung jatuh hati  begitu melihat bayinya pertama kali. Ia begitu mungil dan menggemaskan. Tak tahan rasanya ingin segera menimang. Hari – hari pertama kelahiran si kecil nampak begitu ringkih, lemah, seakan tak berdaya. Karenanya banyak orangtua – terutama orangtua baru – begitu kuatir bila ingin menggendongnya. Padahal bayi senang sekali digendong. Karena ia akan merasa dicintai dan dijaga orangtuanya. Kehangatan dan kenyamanan yang ia rasakan selama 9 bulan dalam rahim ibunya, kembali terasa lewat timangan.

TAHAPAN MOTORIK DAN GAYA MENGGENDONG
Bayi memiliki ‘modal’  untuk survive. Modal itu berupa gerakan refleks bersumber dari insting. Asal tahu saja, gerak refleks ini sudah ia kuasai sejak dalam kandungan. Beberapa gerak refleks yang biasa dilakukan bayi  adalah refleks Moro. Lala ada refleks menghisap, menelan, dan mencari sumber makanan dan kenyamanan. Seiring dengan bertambahnya usia dan perkembangan sistem saraf bayi, gerakan refleks pun berkurang. Sebagai gantinya, muncullah gerakan motorik. Gerakan motorik berkembang pertama adalah bagian kepala dan leher. Terakhir barulah tubuh bayi. Berikut ini adalah tahapan perkembangan motorik bayi, dan kesiapan tubuhnya untuk ditimang:

Usia 1 bulan
Tak heran, meski belum bisa mengangkat tubuhnya, si kecil yang baru berumur 1 bulan mulai bisa menggerakkan dan mengontrol gerak kepalanya. Bila Anda ingin menggendong:

  • Letakkan tangan kanan di kepala dan leher bayi. Sementara itu sisipkan tangan kiri pada punggung dan bokongnya.
  • Peganglah seluruh badan bayi dengan kuat dan erat, lalu angkatlah dan dekap si kecil ke dada, tentu jangan sampai menutup jalan pernapasannya.
  • Setelah itu letakkan kepala bayi pada lipatan siku. Sedangkan tangan yang lain tetap menahan bokong bayi, yang sekarang dalam posisi terlentang.
Satu hal yang perlu diingat adalah posisi kepala harus lebih tinggi daripada bokong bayi. Ada cara lain yang bisa Anda coba:

  • Gendong gaya ‘cradling hold’ : bayi berbaring di sepanjang salah satu lengan, dengan kepala berada di lipatan siku dan berdekatan dengan dada. Tangan yang lain menahan bagian punggung hingga bokong bayi.
  • Gendong gaya ‘ football’. Kepala bayi dan sebagian punggung serta leher, ditopang oleh salah satu lengan. Posisi bayi sejajar dengan bagian pinggang / sisi tubuh ibu. Model seperti ini memang dijarang dilakukan ibu – ibu kita.
Usia 2 bulan
Di akhir usianya yang ke 2 bulan, si kecil sudah bisa  mengangkat lehernya jika ia diletakkan dalam posisi menelungkup. Bayi mulai senang digendong dengan posisi tegak seperti saat disendawakan. Gaya menggendong ini dikenal dengan ‘ shoulder hold’. Posisi ini membantunya membuka mata dan memusatkan perhatian. Sentuhan perut di dada ibu membuatnya lebih nyaman dan hangat karena ia masih bisa mendengar detak jantung ibunya yang biasa ia dengar saat di dalam rahim.
Usia 3 bulan
Saat si kecil  berusia 3 bulan, dengan sedikit pertolongan, ia sudah bisa melakukan posisi setengah duduk di atas pangkuan. Memang, kepalanya masih belum tegak benar. Tapi rasa percaya dirinya meningkat pesan . ia juga bisa menengok ke kanan dan ke kiri, mencari suara yang ingin didengarnya. Ia akan lebih senang digendong dengan posisi bersandar menghadap ke muka, di antara sela siku Anda dan pinggang sementara satu tangan yang lain menopang bokongnya.

Usia 4 bulan
Kini bayi berumur 4 bulan, seluruh tubuhnya, mulai dari kaki hingga kepala bertambah gemuk. Ini disebabkan otot – ototnya bertambah dan menguat. Pada usia ini otot tubuh si kecil menguat dua kali lipat dari sebelumnya. Posisi menggendong seperti mendudukkannya dengan punggung bersandar pada dada dan perut Anda akan jadi favorit. Topang dada dan bokong dengan salah satu tangan. Si kecil senang sekali melihat – lihat pemandangan di sekelilingnya.

Usia 5 bulan
 Ketika si kecil berusia 5 bulan, berat badannya mencapai dua kali dari berat lahir. Saat itu ia menemukan fleksibilitas dalam menggerakkan badannya. Misalnya berguling. Sekarang bayi jadi lasak. Untuk itu, sebaiknya gunakan kain gendongan bila ingin menggendongnya. Ini akan mencegah bayi terjatuh. Di Amerika Serikat , kain gendongan seperti ‘amben’ yang sudah lama kita kenal, kini banyak digemari. Selain akan memudahkan saat menggendong bayi, kain menyamankan pula. Si ibu pun bisa terus mengerjakan pekerjaan rumah tangganya atau berbelanja karena kedua tangannya bebas. Gendong gaya ‘hip – hold ‘ pun bisa dipraktikan sekarang. Caranya, dudukan bayi pada salah satu tulang panggul ibu. Kemudian, bengkokkan siku lengan ibu guna menahan pinggang si kecil. Gaya seperti ini akan membuat si bayi leluasa melihat sekeliling. Ibu pun dapat beraktivitas dengan menggunakan satu tangan yang bebas.

Usia 6  bulan
Di usia 6 bulan, kemampuan mengontrol berbagai gerakan meningkat pesat. Kala berbaring, ia bisa mengangkat kepala dan bahunya, menggulingkan badan, dan menendang – nendang saat digendong. Makanya, banyak ibu entah di pedesaan Indonesia atau di Afrika, bahkan Amerika, yang menggendong anaknya dibelakang punggungnya. Tentunya dengan bantuan kain gendong. Dengan cara ini si ibu bisa mencuci piring, menyapu, atau melakukan perjalanan yang cukup panjang.
Pada dasarnya menggendong bayi dengan teknik apapun tak akan mencendarai bayi. Sepanjang Anda memegang bagain kepala dan punggung, si kecil terasa nyaman di kedua lengan Anda, itu artinya Anda sudah sukses menggendong bayi. Untuk bayi yang lebih besar – sebelum ia bisa duduk sendiri – gaya ‘duduk ‘ di pangkuan lengan akan lebih disukainya. Selamat mencoba!

Selasa, 10 Juli 2012

Kegiatan Belajar ‘Brain – Based’ untuk Melejitkan ‘Number Smart’ dan ‘Word Smart’


Kecerdasan anak dalam hal kata dan angka ternyata bisa ditumbuhkan dan dilatih melalui aneka kegiatan sederhana. Sebelum memulai kegiatan belajar bersama anak, sebaiknya kita pahami betul ‘cara’ anak belajar. Hasil penelitian yang dilakukan selama berpuluh – puluh tahun menunjukkan bahwa anak – anak belajar:
  • Sambil bermain : pada masa kanak – kanak , bermain sama dengan bekerja.
  • Melalui pengalaman langsung: melihat, menyentuh, merasakan, mencium adalah bentuk pembelajaran dini terbaik.
  • Dengan mengobrol.
  • Dengan mencoba memecahkan masalah sungguhan.
  • Dengan menyelediki dan menjelajah. Kata kunci untuk itu adalah : “ Bagaimana kalau …?” , “Apa yang terjadi jika …?”.

Oleh karena itu, kita bisa membantu anak dengan cara:
  • Menjadi pendengar yang baik.
  • Mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang bermutu, misalnya: Apa yang membuatmu berpikir begitu? Apa lagi yang bisa kamu lakukan? Bagaimana kamu bisa melakukan itu ? Bagian mana yang paling kamu sukai? Dari mana kamu mendapat gagasan itu?
  • Tidak membantu jika anak tak melakukan sendiri. Biarkan mereka memutuskan sendiri (sekalipun kita harus mengikat tangan atau menggigit lidah sendiri)
  • Tidak mengkritik
  • Bersabar
  • Menjadi pengamat yang baik
  • Menjadi pemandu sorak yang baik untuk anak

MENUMBUHKAN DAN MELATIH ‘CERDAS KATA’ DAN ‘CERDAS GAMBAR’
Sekarang kita bisa mulai melakukan aneka kegiatan untuk melejitkan word smart dan number smart anak.
  1. Kegiatan 1 :Mengajak bicara. Inilah bentuk stimulasi paling sederhana dari latihan bahasa. Bayi baru lahir sangat peka terhadap suara. Terbukti, saat mendengar suara keras ia akan menangis, sebaliknya saat mendengar musik lembut atau suara ibu ia menjadi tenang. Dengan mengajak bicara, bayi mendapat contoh bunyi yang kemudian hari akan ia praktikkan dengan cara mengoceh. Ini adalah tonggak dimulainya ‘keberbahasaan’ anak. Media teknik yang digunakan adalah perbanyak sentuhan sambil bicara . Hadapkan wajah ke anak agar ia bisa melihat jelas bahwa ‘asal’ suara adalah mulut.
  2. Kegiatan 2 : Membacakan cerita. Lakukan kapan saja kita sempat: di perjalanan, saat menunggu di bandara, tiap anak akan tidur. Jika ada buku favorit anak, sesekali biarkan anak yang bercerita pada kita. Media / teknik yang digunakan: Buku dengan aneka bentuk, fungsi dan tema, misal: buku pop – up, scratch and sniff, touch and feel, ensiklopedi. Pilih buku dengan gambar menarik, berwarna cerah dengan outline hitam.
  3. Kegiatan 3: Bermain huruf. Mulailah dari suara atau bunyi , bukan bentuk huruf. Misalnya, main tebak huruf A: siapa yang namanya dimulai dengan huruf A? Lalu sebutkan Ahmad, Ani, Andi,dll. Lanjutkan dengan nama buah yang dimulai dengan huruf A: anggur, apel, dll. Lakukan di mana saja: di jalan ( minta anak menemukan huruf A di papan reklame), ketika membaca buku (minta anak menemukan huruf A di semua buku tersebut). Media / teknik yang digunakan: mal huruf dari karton ( warna dibedakan untuk konsonan dan vokal, supaya anak langsung mendapat informasi tentang perbedaan konsonan dan vokal).
  4. Kegiatan 4 : merangkai cerita. Ajak anak memperhatikan ilustrasi di buku cerita. Sambil menunjukkan gambarnya, contohkan cara mengucapkan nama benda atau kegiatan,misalnya : “Wah, ada pak polisi sedang naik mobil polisi.” Media / teknik yang digunakan: buku bergambar tanpa kata , potongan – potongan gambar dari majalah, kertas folio bekas yang masih bisa dipakai bagian belakangnya.
  5. Kegiatan 5 : mengenal bentuk geometri. Tunjukkan bentuk – bentuk geometri dari kertas atau dari kain yang kaku, atau puzzle geometris dari kayu yang dibeli dari toko mainan edukatif. Media / teknik yang digunakan: aneka bentuk geometri ( masing – masing sepasang, supaya agar bisa disamakan)
  6. Kegiatan 6 : pengenalan pola. Susunlah pola tertentu memakai kancing berwarna,misalnya pola ‘biru – kuning’, sebanyak dua buah. Lalu minta anak meneruskannya. Media / teknik yang digunakan: aneka benda ( jumlahnya harus cukup banyak) misalnya : stik es krim warna warni, gelas plastic tinggi – pendek, dll.
  7. Kegiatan 7 : mengenalkan konsep matematika. Lakukan kapan saja. Saat belanja misalnya, ajarkan pengelompokkan: telur di rak, es krim di lemari pendingin. Di kegiatan sehari – hari, mintalah anak menata sepatu sesuai pasangannya, menghitung beberapa pasang sepatu yang sudah disusun , dan menjawab pertanyaan “ Kalau sepatu mana dipakai, sepatunya tinggal berapa pasang?” Media / teknik yang digunakan : aneka baha untuk mengenalkan konsep hubungan satu – satu, diambil, ditambah, dibagi, dll.

Senin, 09 Juli 2012

Aman Ber'Video Games'

Aman Ber'Video Games'
  • Siapkan TV cadangan agar tak mengganggu orang lain yang ingin menonton program TV. Bila perlu sediakan tempat khusus.
  • Buat kesepakatan dengan anak bahwa bermain dilakukan di akhir pekan ( sabtu dan minggu) agar tak mengganggu jam belajarnya. Tetapkan pula waktu bermain, misalkan jam 9.00 - 12.00 agar anak tak lupa waktu.
  • Biasakan anak untuk membereskan peralatan games setelah selesai. Perhatikan jarak anak dengan TV demi untuk kesehatan mata.

Minggu, 08 Juli 2012

Main 'Games' Dengan Ayah? (part 2)

Main 'Games' Dengan Ayah? (part 2)
BERKOMUNIKASI SAMBIL BERMAIN
Benar, kehangatan akan muncul lewat permainan ini. Namun tentu saja kondisi tersebut tak hadir dengna sendirinya. "Perlu adanya interaksi emosional di antara keduanya," imbuh pengajar STP Trisakti, Bintaro, Jakarta ini. Maksudnya ? Ya, tentu saja kehadiran ayah tak semata - mata menjadi 'lawan tanding' si kecil. Sambil bermain, sebaiknya ayah dan anak bisa saling bercanda dan berkomunikasi. Aya juga dapat menjelaskan tokoh dalam games, unsur teladan apa yang bisa dipetik, dan apa saja yang tak boleh dilakukan. Agar penjelasan mudah dipahami anak, saran Widiawati, gunakan bahasa sederhana sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Perlu diketahui, kemampuan anak bermain games muncul secara pesat saat usia SD ( 6 - 12 tahun ).

Ayah tak piawai bermain video games ? Tenang. Tidak selamanya seorang ayah lebih pandai dari anak untuk hal - hal tertentu. Karenanya tak perlu malu bila ayah minta diajari anak bagaimana cara bermain games tersebut. Sikap ini tentu akan menumbuhkan perasaan bangga pada anak. Selain itu, bisa saja ayah dan anak melakukan diskusi dan tukar pikiran sehingga melalui ajang ini akan diperoleh manfaat komunikasi timbal balik dan efektif. 

AGAR TAK KERANJINGAN 
Memang, bermain games akan membuat anak ketagihan untuk terus memainkannya, lagi dan lagi. Padahal, bagaimanapun, anak perlu bermain dan bersosialisasi dengan teman - temannya. Agar dua kepentingan itu bisa berjalan seiring, saran Widiawati, orangtua juga harus punya aturan konsisten-disepakati bersama- kapan anak diperbolehkan main games. Dengan demikian, anak sadar ia boleh main games pada hari tertentu saja, misal hari sabtu dan minggu. 

Tak hanya itu. Orangtua juga harus memikirkan alternatif games yang harus diberikan ke anak dengan tujuan memperkaya pengetahuan. Misalnya bermain ular tangga, monopoli, catur jawa, main kelereng, kartu kwartet, dan seterusnya. Usahakan agar permainan itu melibatkan teman - temannya agar anak juga bisa bersosialisasi. Jangan lupa, disiplin yang ketat dan aturan yang konsisten tak hanya untuk anak, juga buat ayah. Sebab, bisa jadi saking asyiknya main games dengan si kecil membuat ayah justru keranjingan. Lalu, dia memainkan tanpa sepengetahuan anak atau diluar waktu yang telah disepakati bersama.

Sabtu, 07 Juli 2012

Main 'Games' Dengan Ayah?

Main 'Games' Dengan Ayah?
Main video games memang mengasyikkan. Apalagi jika ayah juga ikut bermain. Seri, hangat , dan akrab. Inilah hasilnya. Bagaimana mewujudkan itu semua? Febri (6 tahun) begitu asyik di depan TV. Saking asyiknya, matanya tak berkedip. Sementara tangan mungilnya sibuk memencet - mencet tombol stick. Sesekali dai bereriak bila ada adegan seru. 
"Ayo Febri  makan dulu ," teriak Danu, ayahnya. 
"Sebentar Yah, tanggung nih,", sekenanya siswa kelas 1 sekolah dasar ini menjawab. 
Danu  geleng kepalan sambil mendekati Febri, " Sayang, makan dulu dong. Nanti setelah makan , Febri lawan ayah , mau ?!" 
"Apa? Ayah mau main games sama Febri? Asyiiik," teriak si kecil kegirangan.
Semenjak di rumah ada video games, Febri memang jadi keranjingan. Membuatnya lupa waktu , lupa mandi, lupa makan, dan lainnya. Namun sekedar geleng kepala tentu tak memecahkan masalah. Perlu tindakan proaktif agar anak tidak terlena permainan ini. Caranya ? Apa yang dilakukan Danu adalah salah satunya. Ia justru ingin memanfaatkan momen ini untuk lebih dekat dengan buah hatinya. Baginya, daripada kesal melihat si buah hati tak beranjak dari depat TV saat bermain games, lebih baik ikut terlibat. Pasti lebih seru, menyenangkan.

SELEKTIF
Games, diakui atau tidak, merupakan jendela bagi anak - anak untuk memenuhi keingintahuannya. Lewat games, anak mulai belajar bagaimana patuh pada aturan permainan, belajar sabar menunggu giliran, serta dapat melampiaskan perasaanya. Juga akan melatih perkembangan koordinasi tangan - mata karena anak dirangsang untuk melihat dan bereaksi cepat untuk menekan tombol yang ada dengan tepat. Video games adalah jenis games yang menggunakan perangkat TV, player console, joystick , dan lainnya. Anak akan menggunakan alat tersebut untuk memainkan dan bersikap sesuai dengan tuntutan permainan. Dalam video games , biasanya akan ditampilkan tokoh - tokoh yang berperan sebagai hero atau sebagai penjahat. Bisa juga tanpa adanya peran tokoh seperti balah mobil. " Adanya kompleksitas perangkat tersebut, tentu akan menuntut anak belah teknologi, sehingga tidak gaptek (gagap teknologi)," ujar Widiawati Bayu, Psi.

Namun, tak semua games baik untuk anak. Di sinilah, sambung Psikolog dari Psychological Practise, Test & Consultancy ini, peran orangtua sangat dibutuhkan. Games yang sarat kekerasan dan agresivitas tentu saja harus dijauhi. Kenapa ? Ya , karena perilaku kekerasan dari tokoh cenderung akan mudah diadaptasi anak. Apalagi dalam video games, anak dituntut untuk terlibat seolah ia menjadi bagian dari tokoh dan permainan itu sendiri. Imajinasi yang ada dalam benak anak lebih karena diciptkan oleh pembuat games. Setalah memilih permainan yang tepat, ta ada salahnya bila sesekali ayah (orangtua) menemani sik kecil dan menjadi 'lawan tandingnya'. Pasti lebih seru, hangat dan akan tercipta kelekatan di antara keduanya.

(bersambung)

Jumat, 06 Juli 2012

Menghindar dari Jebakan ' Hyper Parenting'


Menghindar dari Jebakan ' Hyper Parenting'
  1. Memprioritaskan kehidupan keluarga. Sempatkan waktu untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, terutama dengan anak - anak. Tak ada kesempatan lebih efektif daripada menghabiskan waktu bersama. Ketahuilah, masa kanak berlalu begitu cepat. Tanpa kita sadari mereka tiba - tiba saja akan sibuk dengan sebayanya, pekerjaan dan akhiranya 'meninggalkan' kita.
  2. Menjadi 'konsumen' yang baik . Perkembangan dunia kesehatan, nutrisi, dan pendidikan tumbuh bak tren dalam dunia fesyen. Kembangkanlah sikap skeptis pada ketiga dunia itu. Keputusan yang diambil atas pertimbangan sendiri biasanya lebih baik. Begitu juga dengan tawaran prduk dan jasa untuk anak. Pertimbangkanlah, apakah itu benar dibutuhkan atau hanya untuk memanjakan anak.
  3. Sadari dimensi anak. Hindari menilai anak dari semua aspek kehidupannya. Masa kanak adalah masa persiapan, bukan tempatnya menempatkan standar kita kepada anak. Anak juga berhak gembira, bersenang - senang , beristirahat , dan mempunyai waktu luang yang mereka isi sesuai pilihan sendiri.
  4. Biarkan sesekali anak waktu ' tak produktif'. Orangtua kerap gerah melihat anak memanfaatkan waktu santainya dengan tanpa kegiatan produktif.'Waktu tak produktif ' itu justru merangsang anak untuk menciptakan sendiri kesenangannya. 

Kamis, 05 Juli 2012

Gejala Anak ' Hyper Parenting'


Gejala Anak ' Hyper Parenting'
  1. Anak menjadi mudah marah
  2. Tertekan, kelelahan akut,  dan mudah cemas.
  3. Menjadi pemberontak
  4. Sakit tanpa alasan yang jelas biasanya mengeluhkan sakit kepala.
  5. Sedikit bicara dan kurang ekspresif
  6. Menjadi tidak terlalu suka bergaul
  7. Empati kurang dan jika terus dibiarkan menjadi sangat materialistis
  8. Tidak bisa menyebut dengan sesungguhnya apa yang sebenarnya ia inginkan
  9. Tidak terlihat bahagia atau kurang bergairah.

Rabu, 04 Juli 2012

Apakah Anda ' Hyper Parenting '?


Apakah Anda ' Hyper Parenting '?
  1. Selalu merasa kecewa berlebihan pada apa yang terjadi atau dialami anak.
  2. Disiplin yang kebablasan , tidak mengenal situasi dan kondisi.
  3. Prestasi kognitif anak menjadi patokan keberhasilan anak.
  4. Membandingkan anak dengan anak lain secara ekstrim.
  5. Sangat kecewa atau terpukul jika anak gagal atau melakukan tindakan negatif.
  6. Selalu merasa kurang pada apa yang telah dilakukan untuk anak - anak mereka.
  7. Kadang berperilaku tak masuk akal: meminta anak tak bermain seharian dan memaksanya mengerjakan suatu kegiatan yang dianggap positif.
  8. Orangtua ' hyper parenting' biasanya menganggap guru selalu tak cukup baik dan menyalahkan mereka jika anak gagal.  
  9. Mereka sangat tersinggung jika anak dikritik dan biasanya semakin menekan anak.

Senin, 02 Juli 2012

Sukses Orangtua Atau Sukses Anak (part 2)

Sukses Orangtua Atau Sukses Anak (part 2)
Agar tak terjebak 
Kehidupan yang penuh persaingan, pandangan yang semakin materialistik, dan tuntutan untuk serba cepat membuat semua orangtua kuatir pada masa depan anak mereka. Hal ini pulalah yang membuat orangtua terjebak pada perilaku ' hyper parenting'. Reni menyebutkan gejala yang muncul pada perilaku 'hyper parenting' umumnya adalah kecemasan yang berlebihan akan prestasi anak. Aplikasinya; memaksa anak mengikuti kursus yang sebenarnya tidak sesuai dengan keinginan anak (belum diperlukan pada saat itu ), menerapkan aturan yang kelewat ketat dalam segala hal, tidak bisa menangkap isyarat yang ditunjukkan anak. Mereka tidak menyadari bahwa anak tertekan. Orangtua juga akan sangat kecewa saat anaknya gagal tapi tidak berusaha membangun semangat anak. Sebaliknya menyalahkan anak atas kegagalan tersebut. 

Tentu, Anda tak ingin terjebak dalam perilaku ' hyper parenting' bukan ? Untuk itu Reni menyarankan agar orangtua peka terhadap isyarat yang ditunjukkan anak. Yaitu minat, keinginan dan pendapat anak. Belajarlah mendengar apa yang diinginkan anak. Jangan menuntut anak untuk mencapai sesuatu yang tidak mungkin dilakukannya. Tapi berikan dukungan pada apa yang ingin dieksplorasi si kecil. Inilah yang dinamakan dengan pengasuhan otoritatif. Yaitu pengasuhan yang tidak memaksa kehendak orangtua , penuh kasih sayang, dan kegembiraan. Alvin Rosenfeld dan Nicole Wise menyarankan agar orangtua terhindar dari perilaku 'hyper parenting ' orangtua harus mengetahui ritme alami anak.Yaitu menyadari bahwa dunia anak berbeda dengan dunia dewasa. Dunia anak adalah bermain. Perlu diingat setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Jadi jangan pernah membandingkannya dengan anak lain! 

Dengan mengikuti ritme alami anak dan peka terhadap isyarat yang diberikan anak, orangtua akan mengetahui mana kegiatan pengayaan yang dibutuhkan anak dan mana yang tidak. Secara singkat Reni memberikan kiat untuk hal ini. Yaitu dengan selalu menanyakan terlebih dahulu apakah anak menyukai suatu kegiatan tertentu atau tidak, perhatikan apakah anak nyaman dengan kegiatannya. Tidak salah jika orangtua berkonsultasi dengan psikolog atau pedagog untuk menanyakan apakah anaknya perlu mengikuti suatu jenis kegiatan atau tidak. Sebaliknya jika sebelumnya orangtua selalu mengkomunikasikannya dengan anak dan melihat ritme alami anak maka upaya yang dilakukan adalah dalam rangka membekali anak. 'Membentuk ' dengan 'membekali' , tentu berbeda. "Membekali berarti memberikan stimulasi sebaik mungkin dan menyerahkan apa yang ingin dicapai anak sesuai dengan harapan dan keinginannya," papar Reni.

Intinya menurut Reni orangtua harus menyadari bahwa tak adil jika memberi anak - anak tuntutan lebih dari yang mereka tanggung. Percayalah, mereka bisa menentukan sendiri apa yang akan mereka lakukan dan bermanfaat di kemudian hari. Tak adil juga rasanya, kita meletakkan masa kanak - kanak kita sebagai sentral dalam pengasuhan. Apalagi kerap membandingkan masa kanak kita dengan masa kanak anak sekarang. 

Sukses Orang Tua atau Sukses Anak?

Setiap orang menginginkan yang terbaik bagi anak - anaknya. Segala hal yang dianggap terbaik dilakukan agar kelak anak menjadi ' manusia super'. Hati - hati terjebak dalam 'hyper parenting'.

Gim adalah bocah berusia tujuh tahun. Ia baru duduk di kelas dua sekolah dasar. Tapi jangan tanya soal kesibukannya. Dalam sehari waktu Gim dipadati dengan aneka kegiatan. Mulai dari les matematika, bahasa Inggris, komputer, piano, dan masih banyak lagi. Gim bukan seorang atlet, tapi soal nutrisi orang tuanya amat memperhitungkan asupan protein, vitamin, dan zat gizi lainnya yang harus dikonsumsi si buyungnya itu.

Orangtua Gim, William dan Gresy mengatur dengan seksama semua itu. Bagi mereka inilah yang harus dilakukan agar Gim putra semata wayangnya ingin tumbuh jadi sempurna dan menjadi orang yang berguana di masa datang. " Kami ingin sangat serius dalam merawat Gim, kami tidak ingin Gim seperti kami yang semasa kecil tidak mendapat cukup rangsangan dari orangtua," tegas William.

Bagaimana anak berkembang?
Bermain, bereksplorasi, berekspresi, berpendapat, dan bahagia. Inilah seharusnya yang dilakukan anak - anak dalam kehidupan. Melalui keempat hal tersebut anak - anak bisa mempelajari sesuatu sehingga bisa mengembangkan seluruh potensi kecerdasan dan tumbuh kembangnya. Orangtua hanya perlu memberi stimulasi yang sesuai dengan usia dan tahapan tumbuh kembang anak. Stimulasi ini dapat diberikan setiap ada kesempatan. Menurut psikologi pendidikan anak, DR. Reni Akbar Hawadi, jika anak memiliki kemampuan melebihi tugas perkembangannya, misal di usia tiga tahun anak sudah bisa mengeja huruf, orangtua boleh saja memacu kemampuan anak supaya mereka bisa membaca,asalkan, dengan stimulasi yang benar. " Tidak memaksakan kehendak, penuh kasih sayang dan kegembiraan. Sehingga anak merasa nyaman dengan stimulasi tersebut," papar Reni.

Dalam perkembangannya anak - anak harus melalui tahapan - tahapan perkembangan. Anak tidak bisa dipaksa untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi dari kemampuannya. Orangtua juga tak bisa memaksa anak menguasai atau menyenangi semua hal yang dianggap baik. " Setiap anak punya bakat yang berbeda, inilah yang perlu kita asah karena biasanya sesuai dengan keinginan anak," ungkap Reni. Kursus atau kegiatan lain hanyalah stimulasi tambahan bukan yang utama. Makanan yang bergizi juga sangat penting, tapi tidak salah jika sekali - kali Anda mengajak anak makan resto fastfood sekedar untuk berekreasi. "Tapi yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Bermain dan interaksi dengan orangtua dan teman sebaya justru menjadi tambahan saja," imbuh Reni. Bisa dibayangkan anak - anak tidak lagi hidup dalam kehidupan anak - anak. Jangan heran jika banyak anak yang stres, tidak bahagia, dan tidak nyaman dengan dirinya.

Hyper parenting?
Pasangan William dan Gresy tentu berhak menyimpan harapan bagi anaknya, Gim. Seperti orangtua pada umumnya, mereka pun ingin anaknya bisa tumbuh optimal. Tapi, bahagiakah Gim dengan pengasuhan yang diterapkan orangtuanya? Benarkah semua itu bisa mendongkrak kesiapan Gim menghadapi masa depannya? Alvin Rosenfeld, M.D., dan Nicole Wise,peneliti, pengamat perkembangan anak, dan penulis buku ' Hyper - Parenting: Are You Hurting Your Child by Trying Too Hard?" mengkategorikan William dan Gresy sebagai profil orangtua yang menjalankan ' hyper parenting' 'Hyper parenting' adalah sebuah upaya orangtua untuk mengontrol semua lingkungan anak. Hal ini dilakukan agar mendapat output atau profil anak yang sempurna. Biasanya menurut kedua ahli ini, orangtua seperti ini menyimpan kekuatiran yang sangat dalam akan masa depan anak - anak mereka. Akibatnya, segala upaya baik dilakukan tanpa memperhatikan kebutuhan si anak itu sendiri. Singkatnya ' hyper parenting ' adalah ' over scheduling' dan ' over enriching' kepada anak - anak.

Sementara itu, menurut Reni Akbar, 'hyper parenting' terjadi karena orangtua merasa tak puas dengan pola asuh yang mereka dapatkan semasa kecil. Biasanya mereka juga tak puas dengan semua yang sudah didapat saat ini. "Bisa jadi mereka tidak puas dengan karir atau kehidupan mereka secara keseluruhan," ungkap dosen psikologi Indonesia ini. Akibatnya semua 'ketidakberuntungan ' itu dibebankan kepada anak. Orangtua berharap anak - anak bisa memberikan dan mendapatkan apa yang mereka tidak dapatkan. Padahal, belum tentu hal ini sesuai dengan kebutuhan apalagi keinginan anak. Orangtua yang hyper kerap tak menyadari bahwa upaya yang mereka lakukan justru bisa menjadi bumerang bagi anak. Hanya karena orangtua yang hyper anak yang mempunyai potensi bagus menjadi runtuh kepercayaan dirinya. Bisa juga anak yang sebenarnya anak sangat penurun, karena gaya pengasuh 'hyper parenting' akan menjadi pemberontak. "Kita suka lupa bahwa anak mempunyai kehidupan dan perkembangannya sendiri. Kita hanya melihat anak sebagai obyek untuk meraih sesuatu," ungkap Reni. (bersambung)