Minggu, 22 Juli 2012

Tips Menghadapi Anak Yang Mencuri

Tips Menghadapi Anak Yang Mencuri
Jika anak SD mencuri, maka reaksi orangtua pertama kali adalah marah. Lain halnya kalau anak masih TK, orangtua bisa lebih halus menanggapi kesalahan anak. Mencuri adalah perbuatan yang tidak baik,dan orangtua tidak ingin anaknya menjadi pencuri. Sikap mencuri anak usia  5 - 6 tahun bukan bibit tidak baik yang harus ditakuti. Ada 3 alasan anak melakukan hal itu;
  1. Anak masih sulit mengendalikan dorongan dari dalam dirinya. Kesadaran dan rasa ingin anak sudah berkembang. Anak sadar bahwa mencuri salah, namun rasa ingin memiliki (dorongan) dalam diri ini lebih kuat ketimbang kesadarannya. Maka itu jangan terlalu cepat menghukum dan memarahi anak saat ia mencuri, karena dorongan dalam dirinya masih belum bisa dikendalikannya.
  2. Ingin menyamai teman. Melihat temanya memiliki sesuatu , anak ingin memilikinya. Perasaan tidak ingin kalah dari temannya membuat mereka melakukan hal salah ini.
  3. Ingin punya rahasia. Ada kasus tertentu yang di mana anak ingin memiliki rahasia.
Namun orangtua tidak hanya mendiamkan perbuatan yang salah ini, dan harus dengan cara yang benar dalam menasehati kesalahan itu. Berikut tips untuk memberi tahu anak tentang kesalahannya saat mencuri:
  1. Berkomentar sebiasa mungkin. Jangan dengan marah atau nada kesal.Contoh : "Wah darimana ya mainan ini?" 
  2. Jelaskan kesalahan anak tanpa berbelit - belit. Misalkan " Tidak baik mengambil barang milik orang lain." Dan jangan terlalu memberikan penjelasan yang panjang lebar. Cukup satu kalimat saja untuk memberikan penjelasan.
  3. Sisipkan nilai - nilai positif dengan cara positif. Misalkan " Mencuri itu tidak disukai Allah" ( nilai agama)
  4. Terima perasaan anak. Coba pahami perasaan anak. Anak mencuri, karena ia tidak memiliki mainan yang tidak dipunya di rumahnya. 
  5. Tegaskan pada anak harus memperbaiki keadaan. Minta anak untuk memulangkan kembali barang yang telah diambilnya. 
  6. Bantulah anak untuk menemukan cara agar tidak perlu mencuri lagi. Misalnya anak sangat menyukai benda yang dicurinya, beri tahu padanya lebih baik meminjam atau menabung untuk membeli barang ( mainan )
Cobalah untuk memahami perasaan anak Anda, dan jangan langsung memberi hukuman. Sebab untuk usia 5 -6 tahun , mencuri adalah hal yang masih dianggap wajar. 

Sabtu, 21 Juli 2012

Pola Asuh Salah, Anak Frustasi

Pola Asuh Salah, Anak Frustasi
Tak hanya orang dewasa yang mengalami frustasi, anak sejak umur batita ( bawah tiga tahun ) sudah mengalami frustasi. Cara orangtua menanggapi frustasi batita, akan mempengaruhi frustasi anak pada usia berikutnya.Menurut Barbara K. Polland, Ph.D.profesor perkembangan anak dan remaja di California State University di Northridge Amerika Serikat, "mengalami frustasi akan mengajarkan anak batita cara mengatasi rintangan - sebuah keterampilan berharga yang dibutuhkan sepanjang hidupnya." Pola asuh orangtua dalam menyikapi rasa frustasi anak harus bijak. Rasa frustasi muncul akibat keinginan yang tidak terpenuhi. Anak pada usia prasekolah , yaitu umur 3 - 4 tahun, mulai memiliki banyak keinginan. Mereka ingin bisa memakai baju sendiri, punya mainan baru, bisa memakai sepatu sendiri, dll. 

Ada dua faktor utama yang membuat anak mudah frustasi. Pertama anak usia prasekolah masih mengembangkan kemampuan fisiknya, sehingga mereka kadang berharap dan merasa mampu melakukan segalanya.Kedua anak usia prasekolah sudah memiliki banyak keinginan. Lihat ini kepingin, lihat itu kepingin. Tapi pada kenyataannya mereka tidak selalu mendapatkan yang mereka inginkan.

Selain kedua faktor utama di atas, ternyata pola asuh orangtua turut mempengaruhi rasa frustasi anak. Pola asuh yang salah membuat anak menjadi frustasi. Rasa frustasi yang berlebihan akan membuat perkembangan mental anak yang tidak baik. Untuk itu sudah seharusnya orangtua harus mengenali pola - pola asuh yang salah:
  1. Terlalu cepat dan terlalu banyak memberi bantuan. Sikap orangtua terlalu cepat dan sering memberikan bantuan pada anak, saat anak mencoba sesuatu misalnya memakai baju, memakai sepatu. Atau saking sayangnya kita sering terlalu menuruti kemauan anak, misalnya minta mainan langsung diberikan, minta baju langsung dibelikan.
  2. Membiarkan anak melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya.Permainan untuk anak sudah diatur sesuai usianya. Memberikan mainan yang tak sesuai usianya, hanya  membuat anak menjadi frustasi. Atau belum saatnya anak memakai baju sendiri, anda meminta dan membiarkan anak pakai baju sendiri. Sebagai orangtua harus mengenal kegiatan apa dan permainan apa yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak
  3. Tidak menerima rasa frustasi anak. Mengabaikan rasa frustasi anak , juga tidak baik. Kita tidak selamanya harus membiarkan anak mencoba melakukan sesuatu, padahal anak sudah frustasi. Jika anak sudah sangat frustasi, orangtua harus segera turun untuk memberi bantuan kepada anak.
  4. Tidak pernah memotivasi anak untuk mencoba lagi. Orangtua harus sering mendorong anak untuk mencoba, walaupun pernah frustasi karena hal itu.Asalkan sesuai dengan usianya. Misal tetap dorong anak untuk memakai baju, karena suatu saat anak sudah harus bisa memakai baju sendiri.
Kesimpulan yang harus kita lakukan adalah memberi kesempatan pada anak untuk belajar mengembangkan diri dan terus memotivasinya, serta memantau kegiatannya dan tetap berusaha memahami perasaan anak dalam menyikapi frustasinya.

Jumat, 20 Juli 2012

Tips Menjawab Pertanyaan Anak

Tips Menjawab Pertanyaan AnakSeperti pernah saya posting sebelumnya, bahwa anak batita sangat senang mengulang pertanyaan. Maka seringkali orangtua juga orangtua merasa bosan dengan pertanyaan anak, tapi pernah saya tulis juga , bahwa pertanyaan yang berulang - ulang ini bukan tanpa alasan. Untuk itu kita harus punya cara untuk menngarahkan  dan mendidik pertanyaan anak yang berulang - ulang tersebut. Berikut ini ada beberapa tips dari Dr. Brenda Hussey - Gardner, Ph.D.,M.P.H spesialis perkembangan anak dan juga penulis buku ' Parenting to Make a Differences: Your One to Four Year Child' , yang bisa anda lakukan untuk mengarahkan pertanyaan anak yang berulang tersebut:
  1. Bicaralah dengan anak. Bila anak menanyakan kenapa induk kucing mengigit anaknya, dan Anda sudah menjawab bahwa induk itu bukan mengigit anaknya melainkan menggendong anaknya. Maka itu adalah bahan pembicaraan yang tepat adalah membicarakan tentang induk kucing. Jangan kita malah sibuk membicarkan hal lain , misalnya tempat rekreasi. Sebab untuk saat itu , anak lebih tertarik dengan masalah induk kucing yang mengigit anaknya. Oleh sebab itu pulalah , maka anak sering menanyakan hal itu berulang - ulang.
  2. Kesempatan untuk membenarkan cara pengucapan anak. Ini adalah kesempatan Anda untuk membenarkan bahasa pengucapan anak. Anak batita masih sering kurang pas, misalkan menyebut kura - kura menjadi kula - kula. Jadi saat anak mengulang pertanyaan ini adalah kesempatan Anda untuk membetulkan bahasa atau kata - kata anak yang salah. Tapi jangan secara frontal mengatakan bahasanya salah. Misalnya anak anda menanyakan " napa kula - kula-nya? " Maka jawablah dengan bahasa atau kata - kata yang benar yaitu " oh kura - kura-nya sedang makan."
  3. Berikan Pujian. Pujilah pertanyaan anak , dan lakukan denga tulus. Hal ini membuat anak menjadi bangga. Pujian misalnya " Pertanyaan yang bagus." Lakukanlah ini, walau anak terus mengulang pertanyaan. Ada baiknya memuji anak, baru memberikan jawaban. Dan usahakan jawabanya mengandung point no 2 yaitu kesempatan membenarkan bahasa pengucapan anak.
  4. Bantu anak menyimak. Kesempatan ini bisa kita manfaatkan untuk anak belajar mendengar. Misalkan anak bertanya apa di luar hujan ? Padahal di luar sedang hujan, maka marilah kita mengajaknya untuk mendengarkan suara hujan. Atau bisa juga ditambahkan dengan menyanyikan lagu tik - tik ada hujan di atas genteng. Semuanya bisa anda atur dan sesuaikan dengan pertanyaan yang anda ajukan.
  5. Baca buku. Kesempatan berikutnya adalah mendidik anak gemar membaca. Ketika anak mengajukan pertanyaan , maka ada cara lain yang bisa anda gunakan yaitu mencari jawabannya di buku. Ini memberi kesempatan untuk menumbuhkan minat baca pada anak Anda.Buku - buku di sini haruslah buku anak - anak yang penuh dengan gambar - gambar , jangan buku bacaan yang berat.
Jadi banyak cara dan kesempatan yang tersembunyi saat anak mengajukan pertanyaan yang sama secara berulang - ulang. Kesempatan Anda untuk mendidik anak menjadi cerdas dan kreatif. Semoga artikel ini berguna untuk Anda.

Kamis, 19 Juli 2012

Tahukah Anda Bahwa Batita Senang Mengulang Pertanyaan ?

Tahukah Anda Bahwa Batita Senang Mengulang Pertanyaan ?Anak Batita yaitu anak Bawah Tiga Tahun , alias anak yang usianya masih di bawah tiga tahun. Anak batita senang sekali mengulangi pertanyaan yang sama secar berulang - ulang. Banyak orangtua yang pada akhirnya merasa bosan dengan pertanyaan anak yang berulang - ulang tersebut. Tak jarang pula banyak anak batita yang suka membuat pertanyaan yang sudah ia ketahui jawabannya. Tapi kita sebagai orangtua, janganlah lekas marah atas pertanyaan yang sama tersebut. Kita harus tahu kenapa anak senang mengulangi pertanyaan tersebut. Menurut Dr. Brenda Hussey - Gardner spesialis perkembangan anak dan juga penulis buku 'Parenting to Make a Difference: Your One to Four Year Old Child', mengatakan ada tiga alasan yang membuat anak mengulangi pertanyaan , yaitu :
  • Menguji pengetahuan dan ingatannya sendiri. Anak sering memberikan pertanyaan yang sama atas alasan untuk menguji daya ingat dari dirinya sendiri.
  • Ingin memberi tahu. Pertanyaan yang diluncurkan dari anaknya , sebenarnya bukan pertanyaan. Melainkan cara si anak untuk memberi tahu orangtuanya atau siapapun, tentang hal yang ingin diberitahukannya. Misal anak menanyakan jam berapa ayah pulang secara berulang - ulang. Itu adalah tanda dari anak untuk memberi tahu bahwa ayahnya akan pulang.
  • Anak ingin kita menanyakan hal yang sama kepadanya. Pertanyaan yang sering dilontarkan anak , adalah karena ingin agar orangtuanya menanyakan itu padanya. Pertanyaan yang dilontarkan kepadanya adalah untuk menguji daya ingat anak ,seperti point alasan no. 1 di atas. Ketika Anda menanyakan pertanyaan itu ke anak , maka anak akan berusaha menjawab pertanyaan itu. Dan anak ingin tahu apa jawabannya itu benar, dan hal itu menunjukkan apakah anak sudah mengingat jawaban yang pernah diberikan kepadanya.
Sebagai orangtua kita harus belajar mengenal anak kita dengan sungguh - sungguh. Sabar aja tidak cukup, sebab saat kesabaran sudah habis, yang timbul kita  menjadi marah. Pengetahuan tentang kebiasaan anak mengulang pertanyaan ini, semoga memberikan anda pengertian dan pemahaman bahwa anak sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.

Rabu, 18 Juli 2012

Permainan Mengembangkan Kreatifitas Anak

Melanjutkan artikel sebelumnya ‘kreatifkah anakku ?’ , maka saya akan memberikan beberapa kegiatan dan aktifitas yang dapat merangsang si kecil menjadi lebih kreatif. Siapa orangtua yang tak senang jika anaknya kreatif dan cerdas, begitu pula Anda ? Banyak orangtua malah memberikan mainan yang tidak baik untuk anaknya. Sering saya bertemu balita yang sudah main hp. Si anak merasa senang dengan mainan yang satu ini, padahal itu bukan mainan. Tapi ketika hp itu diambil, maka si anak akan menangis. Memang tidak salah anak memegang atau memainkan hp, tapi hp yang ia pegang itu tidak akan merangsang kreatifitasnya. Dan bila anak menangis saat hp-nya diambil , itu terlebih karena rasa ingin tahu anak yang amat besar. Mari kita arahkan rasa ingin tahu anak pada sesuatu yang bisa membuatnya lebih kreatif. Simak beberapa kegiatan dan aktifitas untuk anak di bawah ini:
  1. Menyusun balok. Permainan kuno dan masih tetap ada. Bahkan di semua sekolah TK atau Paud mainan ini wajib ada. Permainan yang satu ini memberikan anak untuk berkreasi lebih terhadap balok yang disusun. Jadi tak hanya di sekolah saja, maka di rumah juga wajib ada. Tapi ingat bantu anak untuk memainkan ini, dan temani ia dalam permainan ini.
  2. Mewarnai batu. Gunakan batu – batu ceper , dan berilah warna pada batu tersebut. Berilah contoh bagaimana mewarnainya. Dan biarkan anak anda memberikan warna dengan kreasinya sendiri.
  3. Bermain Musik. Ide yang satu ini agak aneh, tapi jangan keliru dulu. Kreatif itu mencipta dari hal yang belum ada , alias aneh. Bermain musik tidak menggunakan alat musik, melainkan peralatan dapur atau makan, seperti panci, sendok, sumpit, botol yang diisi beras, dll. Tapi jangan gunakan peralatan dapur yang masih terpakai, pakai yang sudah rusak atau tidak terpakai.
  4. Buat cerita. Pancing anak membuat cerita. Anda mulai dengan satu kalimat dulu, lalu anak meneruskan dan mengembangkannya menjadi cerita. Bisa juga dengan membuat potongan gambar dari koran atau majalah , sehingga menjadi sebuah cerita.
  5. Biarkan anak mengambil mainannya sendiri. Letakkan mainan anak pada tempat yang agak tinggi, misalnya meja atau rak. Tempat itu harus tidak bisa dijangkau dengan tangan anak. Siapkan alat bantu di dekat tempat penyimpanan  mainan itu, sehingga anak dapat menggunakan alat bantu tersebut untuk mengambil mainannya.
Dari semua ide permainan di atas, hal yang harus Anda perhatikan adalah menemaninya bermain dan tetap mengawasinya agar tidak melakukan hal yang membahayakannya. Sekian tips permainan kreatifitas anak, semoga dapat membantu mengembangkan kreatifitas anak.
     
     

Selasa, 17 Juli 2012

Kreatifkah Anakku ?

Kreatifkah Anakku ? Senangnya memiliki anak yang aktif dan kreatif. Hal ini menunjukkan betapa cerdasnya dia. Ada saat kita dibuat kesal dengan sikap kreatifnya yang berlebihan. Semua tembok dicoret – coret, mainan baru jadi rusak, dan seisi rumah jadi berantakan. Melihat keadaan itu , kita pasti marah. Namun dengan memarahinya, sama artinya Anda membatasinya dalam berkreatifitas. Menurut Prof. Dr. S.C. Utami Munandar penulis buku ‘ Mengembangkan bakat dan kreatifitas anak sekolah’,” kreatifitas anak tumbuh dan berkembang pada saat usia 1 – 4 tahun.” Pada usia itulah sel – sel otak anak sedang tumbuh dan berkembang dengan pesat. Untuk itu janganlah membatasi , apalagi memarahi perbuatan kreatif anak. Lalu bagaimana mengembangkan kreatifitas anak dan tetap mengarahkannya agar menyalurkan sesuai dengan kaidah yang benar. Perhatikan tips berikut ini :
  1. Ciptakan lingkungan yang membuat anak menjadi kreatif. Membawa anak bermain di taman atau pasir akan membantu anak untuk lebih kreatif. Biarkan anak melakukan apapun, tapi tetap anda perhatikan keselamatannya. Ingat jangan memarahinya, saat dia berbuat hal yang berbahaya atau melakukan kesalahan, tapi ajaklah dia untuk melakukan hal yang lain.
  2. Pahamilah. Anak paling suka mencoret – coret di dinding rumah , atau lantai. Biarkanlah anak melakukan itu. Cobalah solusi untuk memberikan papan tulis atau kertas, agar menjadi media dia mencoret – coret. Atau bisa juga memberikan kertas gambar , untuk dia menggambar. Kemudian hasil gambarnya anda bingkai atau cukup anda panjang di dinding rumah. Intinya anda berusaha memahami kemauannya, tapi sambil mengarahkannya ke hal yang lebih baik.
  3. Rangsang. Berilah permainan yang merangsang anak untuk kreatif. Ada banyak mainan sekarang untuk anak dari berbagai usia , yang dapat menumbuhkan kreatifitasnya. Temani anak anda dalam melakukan permainan itu, sehingga anak merasa bersemangat dan senang dengan permainan itu.  Berilah pujian untuk keberhasilannya.
  4. Tekankan pada proses. Jangan memaksakan anak menjadi jenius saat masih balita. Memang ada beberapa orangtua yang memaksakan anaknya untuk mengikuti beberapa kegiatan ,agar anaknya besok menjadi pemusik , pebalet , dll. Biarkan anak menentukan sendiri apa yang dia suka. Dan biarkan ia berkembang sesuai dengan usianya.
  5. Jangan mengkritik. Kritik adalah tanda tidak puas. Kritik tidak membuat anak menjadi lebih baik, malah membuat anak menjadi mundur. Setiap kritik yang kita lancarkan , hanya membuat anak menjadi kecewa.
Kelima tips di atas akan membantu anda dalam mengembangkan kreatifitas anak. Semoga bermanfaat untuk mengembangkan kreatifitas anak anda.

Senin, 16 Juli 2012

Cara Menasehati Anak Yang Ngomong Kotor

Cara Menasehati Anak Yang Ngomong KotorPergaulan sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian anak. Tapi mengurung anak agar tidak terinfeksi dampak negatif , adalah perbuatan keliru. Pernah saya temui orang tua yang mengurung anaknya , hanya  takut anaknya terpengaruh hal negatif. Dampaknya malah anak itu jadi tidak pernah bergaul dan tak bisa bersosialisasi. Memang tak semua orangtua mendidik anaknya dengan benar, kita yang mendidiknya dengan benar saja pun , tetap masih gagal mendidik anak menjadi benar. Pengaruh teman – teman dari anak sangat kuat . Akibatnya kita kaget, bila suatu saat mendengar anak  memaki dengan kata kasar.
Jika anda sering menggunakan omongan kasar , jangan harap anak  tidak akan mengucapkan omongan kasar. Anak cenderung meniru setiap perbuatan dan perkataan dari sekitarnya. Jika orangtua kasar dalam omongan, anak pasti juga kasar dalam omongannya. Dan bila teman – temannya terbiasa bicara kasar, anak mengikuti temannya bicara kasar.  Sikap mengurung atau menjauhkannya  dari teman –temannya yang berpengaruh negatif jugalah tidak baik, karena membentuk anak jadi pilih – pilih dalam berteman. Berikut ini saya berikan beberapa tips yang membantu anda untuk mengatasi kebiasaan anak yang suka bicara kasar atau ngomong kasar:
  1. Jangan memberi hukuman. Tidak ada orang yang suka dihukum , termasuk anak kita. Memberi cambuk , menjewer , atau  hukuman lainnya akan berdampak buruk pada anak. Anak menjadi takut melakukan sesuatu , karena takut salah. Hal ini akan berdampak sampai besar, yang membuat anak selalu menjadi takut salah.
  2. Jangan ditanggapi. Ketika anak memaki dengan omongan kasar, cara terbaik adalah mendiamkan atau tidak menanggapinya. Cuekin aja kemarahannya, saat ia memaki dengan kata kasar . Daripada Anda menghukum , ini cara paling ampuh.
  3. Alihkan dengan kata – kata lain. Jika si anak terus mengulangi kata – kata kasar itu, beri tahu ia agar mengganti kata kasar itu dengan kata lain. Kebetulan di tempat saya bekerja ada istilah baru jika ingin marah, teman saya membuat kata – kata makian baru ketika dia marah, ia mengatakan ‘kucing’. Ini membuat orang mendengarnya tidak marah dan malah jadi lucu, ketimbang ia  mengatakan ‘ anjing’.
  4. Kenalkan aturan. Beri pengertian pada anak , bahwa kata – kata kasar itu membuat orang tersinggung. Berikan pengertian ini dengan nada bicara yang tenang, jangan menjelaskan pada anak dalam nada bicara marah.
  5. Mulut kita, harimau kita. Hati – hatilah kita sebagai orangtua saat marah kepada pasangan atau anak. Jika kita sering menggunakan kata – kata kasar, maka anak akan ikut menggunakan kata – kata kasar. Anak cenderung mencontoh orangtua dan sekitarnya.
  6. Beri perhatian pada hal positif. Berikan lebih banyak pujian pada anak  saat dia melakukan hal positif. Hal ini selaras dengan mengabaikan anak ketika berbuat hal negatif. Semakin sering pujian ia dengar , maka ia akan berusaha untuk membuat lebih banyak hal positif, agar terus mendapat pujian dari orangtuanya.
Semoga beberapa tips ini berguna untuk anda dalam mengatasi anak yang suka berbicara kasar.